Tetap Waspadai Hoaks, Budayakan Tabayyun

Kemenkominfo mengungkap hasil temuan informasi bohong atau hoaks yang beredar di media sosial sejak Agustus 2018 hingga Maret 2019

Tetap Waspadai Hoaks, Budayakan Tabayyun
Istimewa
Wartawan Tribun Jateng Mukhamad Nur Huda 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng: M Nur Huda

 TRIBUNJATENG.COM - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkap hasil temuan informasi bohong atau hoaks yang beredar di media sosial sejak Agustus 2018 hingga Maret 2019. Jumlahnya mencapai 1.224 hoaks.

Dari data Kemenkominfo, pada Agustus 2018 ada 25 hoaks, Oktober dan November 2018 masing-masing di angka 53 dan 63 hoaks, Desember 2019 naik tiga kali lipat menjadi 75 hoaks.

Mendekati Pilpres 2019 angkanya meningkat, pada Januari 2019 mencapai 175 hoaks, Februari 2019 mencapai 353 hoaks, dan Maret 2019 mencapai 453 hoaks.

Dari jumlah 453 hoaks tersebut, sejumlah 130 hoaks berkaitan dengan isu politik. Sedangkan jika diakumulasi sejak Agustus 2018, total ada 311hoaks terkait politik.

Kominfo mengategorikan hoaks politik sebagai kabar bohong yang menyerang pasangan calon presiden dan wakil presiden, partai politik peserta pemilu, maupun penyelenggara pemilu.

Selain hoaks politik, Kominfo menyebut kabar bohong itu menyasar isu kesehatan, pemerintahan, terkait kejahatan, isu agama,hoaksberisi fitnah terhadap individu tertentu, internasional, mengarah ke penipuan dan perdagangan, serta isu pendidikan.

Pelaksana Tugas Kepala Humas Kemenkominfo, Ferdinandus Setuyang dikutip dari Kompas.com, mengungkapkan, Kominfo memiliki tim yang melakukan pencarian, verifikasi, dan validasi pada seluruh konten, baik hoaks, terorisme, radikalisme, pornografi, perjudian, hingga konten negatif.

Dalam tim, terdapat 100 personel didukung oleh mesin pengais konten negatifKominfo(MesinAis) yang bekerja 24 jam, 7 hari seminggu tanpa henti.

Masyarakat diimbau untuk turut melaporkan jika menemukan isu yang kebenarannya masih diragukan ke Kementerian Kominfo melalui email aduankonten@ kominfo.go.id atau akun Twitter @aduankonten.

Memprihatinkan memang ketika melihat data jumlah produksi hoaks di atas. Menukil obrolan seorang teman, "Hoaks kok dipelihara, lebih baik pelihara kambing bisa buat kurban, kalau pelihara hoaks malah bikin lama tinggal di Neraka".

Hoaks merupakan tindakan yang mengarah pada pembunuhan karakter, mengesampingkan integritas dan akhlak, serta persaudaraan. Kurangnya literasi digital, didorong sikap produk hoaks yang diterima telah mewakili kepentingannya, membuat pengguna internet pun turut menyebarkannya.

Dalam hal ini, keluarga adalah pihak paling efektif mencegah hoaks. Orangtua mesti aktif memantau informasi yang diakses anak beserta pergaulannya. Tokoh agama juga punya peran penting mencegah hoaks, bukan malah ikut menggaungkannya dengan pengeras suara.

Kata kunci sederhana ketika menerima informasi yang meragukan, atau mengandung unsur menyinggung atau merugikan orang lain, harus membudayakan cek and ricek atau dalam Islam dikenal Tabayyun. Tabayyun adalah menelusuri kejelasan tentang kabar dari sumbernya hingga jelas dan benar.

Jangan tergesa memutuskan suatu masalah atau kebijakan sebelum secara jelas benar sumber pemasalahannya. Tetap waspada memanfaatkan teknologi, jika tak ingin berurusan dnegan pasal 310 dan 311 KUHP dan Undang-Undang ITE.(M Nur Huda)

Penulis: m nur huda
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved