Pengamat: Indonesia Butuh Jalan Tol Bertingkat yang Tak Memakan Tempat

Indonesia pun disebut mulai butuh menerapkan konsep jalan tol bertingkat. Karena konsep jalan tol bertingkat, lebih tidak memakan tempat.

Pengamat: Indonesia Butuh Jalan Tol Bertingkat yang Tak Memakan Tempat
Tribunjateng.com/Budi Susanto
Interchange Jalan Tol Trans Jawa Kota Pekalongan Jawa Tengah. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di Indonesia era sekarang, pembangunan infrastruktur sedang digalakkan.

Berbagai macam infrastruktur dibangun, misalnya bandara, jembatan, hingga jalan tol.

Indonesia pun disebut mulai butuh menerapkan konsep jalan tol bertingkat. Karena konsep jalan tol bertingkat, lebih tidak memakan tempat.

Hal itu diungkapkan Ketua Program Profesi Insinyur Unika Soegijapranata, Widija Suseno Widjaja di sela diskusi konstruksi di kampus Unika Soegijapranata, Semarang, Minggu (14/4/2019).

"Jalan tol bertingkat secara sederhana diartikan jalan tol yang dibangun di atas jalan raya. Jadi kesannya jalan tol di lantai dua," paparnya.

Dituding Hanya Meresmikan Jalan Tol, Reaksi Jokowi Bikin Anak Milenial Riuh

Menurutnya, pembuatan jalan tol tersebut akan lebih efektif diterapkan di Indonesia.

Pembuatan jalan tol itu disebutnya akan mengurangi ongkos produksi, karena tidak perlu melakukan pembebasan lahan terlalu banyak.

"Bisa menghemat tempat. Hanya kesulitannya adalah saat membuatnya, di bawah sedang ada lalu lalang kendaraan," terang Widija.

Menurut dia, saat ini Jakarta menjadi tempat yang paling membutuhkan pembuatan sistem tol bertingkat.

Di waktu-waktu yang akan datang, menurutnya di tempat lain juga perlu penerapan serupa.

Tak terkecuali Semarang.

Apalagi Semarang sedang menggagas proyek jalan tembus Undip-Unnes.

"Jalan tersebut kan melewati banyak daerah persawahan. Semoga bisa dimatangkan proyeknya," ujarnya.

Kakek Miskin di Brebes Ini Hidupnya Miris, Sebatangkara Hidup di Gubuk di Atas Lahan Jalan Tol

Forum diskusi konstruksi merupakan forum yang digagas prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, yang dilangsungkan sebulan sekali.

"Setelah mahasiswa lulus bisa mendapat aneka ragam ilmu tentang konstruksi tak dari kuliah saja tapi di forum-forum juga," ujarnya.

Ketua Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Daniel Hartanto menambahkan diskusi konstruksi tersebut hadir tiap bulan sekali.

"Kita adakan ini, isinya berupa membicarakan perkembangan konstruksi. Misal kali ini terkait jalan tol," terangnya.

Di prodi Teknik Sipil sendiri, menurutnya pembahasan terkait konstruksi secara menyeluruh dibahas di salah satunya mata kuliah rekayasa jalan raya.

"Di mata kuliah itu, mahasiswa tahu bagaimana menyiapkan jalan raya yang baik," ujarnya.

"Bagaimana kemiringannya, kekuatannya maupun struktur drainasenya sehingga tahan lama, kuat dan awet," papar Daniel. (ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved