FOKUS : Surat Kotak Suara

Pesta demokrasi tak lama lagi usai. Dua hari lagi, 17 April 2019, sudah pencoblosan surat suara. Rakyat memilih pemimpinnya, Jokowi-Ma’ruf Amin

FOKUS : Surat Kotak Suara
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Oleh Sujarwo

Wartawan Triun Jateng

Pesta demokrasi tak lama lagi usai. Dua hari lagi, 17 April 2019, sudah pencoblosan surat suara. Rakyat memilih pemimpinnya, Jokowi-Ma’ruf Amin atau Prabowo-Sandi. Data mutakhir dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih mencapai 192.866.254.

“Jumlah total pemilih di dalam negeri 190.779.969 pemilih. Jumlah pemilih di luar negeri total 2.086.285 pemilih," kata Ketua KPU Arief Budiman di kantor KPU, Senin (8/4/2019).

Surat suara sendiri memiliki sejarah panjang. Mengutip literatur, surat suara sudah digunakan sejak zaman Yunani kuno. Surat suara yang benar-benar terbuat dari kertas pertama kali digunakan pada tahun 139 Sebelum Masehi (SM) di Roma.

Surat suara berisi nama kandidat seperti sekarang, pertama kali digunakan di negara bagian Victoria, Australia tahun 1857. Surat suara tersebut berisi daftar semua kandidat dan akhirnya disebut dengan "surat suara Australia".

Pada 1889, New York adalah negara bagian AS pertama yang mengadopsi jenis surat suara tersebut.
Sesuai tradisi demokrasi, surat suara itu disimpan dalam kotak suara. Keduanya memiliki makna filosofis yang tinggi. Simak antara lain pendapat Melcom dan Tom.

"(Surat suara dan kotak suara) mudah digunakan dan mengamankan kerahasiaan, mencegah intimidasi, penyuapan dan korupsi, setidaknya secara teori," tulis Malcolm Crook dari Keele University dan Tom Crook dari Universitas Oxford Brookes.

Kotak juga dimaknai, karena memiliki garis yang kaku dan tegas, mengesankan rasioanalitas. Kotak pun memiliki kesan kejujuran dan kestabilan. Ada pula pendapat, dari segi psikologi bentuk kotak memiliki kesan keamanan, kedamaian dan persamaan.

Tidak jauh beda pendapat empat personel Band Kotak dalam memaknai namanya. Nama Kotak, menurut mereka, memiliki arti empat sisi dan empat sudut yang bersatu menjadi bangunan kotak. Hal itu menggambarkan tentang empat orang yang berbeda tetapi bersatu dalam satu wadah musik.

Dalam mitologi Yunani ada Kotak Pandora. Di akhir kisah, disebutkan Pandora sangat terkejut dan menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Dia kemudian melihat ke dalam kotak dan menyadari bahwa ternyata terdapat satu hal yang tersisa dan tak terlepas dari kotak tersebut, yaitu harapan. Harapanlah satu-satunya hal yang dapat menenangkan manusia dari penderitaan yang mereka alami.

Begitulah tak bedanya dalam pemilu dan pilpres. SKS (surat kotak suara) adalah bagian simbol daulat rakyat. Jika di dunia perguruan tinggi SKS singkatan dari satuan kredit semester, sistem dimana mahasiswa bebas memilih sendiri mata kuliah yang akan ia ambil dalam satu semester.

Demkian pula SKS dalam pemilu-pilpres, rakyat bebas memilih, Dijamin, kata Melcom dan Tom, kerahasiaannya tanpa intimidasi. Terkandung harapan (lebih baik) sebagaimana kata Pandora.

Dan, seusai pesta demokrasi, siapa yang terpilih, tidak lantas menjadi terkotak-kotak. Seperti kata personel Band Kotak, berbeda tetapi bersatu. Kembali merajut persaudaraan sebangsa. (*)

Penulis: sujarwo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved