Ngopi Pagi

Pesta yang Lancar

Tak ada peristiwa menonjol yang bisa dianggap sebagai indikasi bahwa pemilu kali ini berjalan tak lancar

Pesta yang Lancar
tribunjateng/grafis/bram kusuma
ERWIN Ardiansyah wartawan Tribun Jateng 

Pesta yang Lancar

erwin ardian

PESTA telah dilaksanakan dengan lancar. Tugas warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih telah ditunaikan. Setelah ditunggu-tunggu, pemilu presiden dan pemilu legislatif akhirnya berlangsung aman.

Tak ada peristiwa menonjol yang bisa dianggap sebagai indikasi bahwa pemilu kali ini berjalan tak lancar. Terlepas dari adanya kekurangan-kekurangan kecil dalam hal pelaksanaan, secara umum jalannya pemilu aman.

Kesuksesan pemilu bukan saja milik KPU, Bawaslu atau aparat keamanan, namun hasil kerja seluruh rakyat dengan fungsinya masing-masing. Seperti hampir semua pemilu sebelumnya, kegaduhan kecil hanya muncul sebelum pencoblosan. Dalam semua pemilu pula, rakyat indonesia langsung tenang dan santai setelah pencoblosan.

Para pemilih tak lagi gaduh. Meski harap-harap cemas, para pemilih dengan tenang menunggu hasil hitung cepat maupun hitung manual KPU. Tak ada lagi kegaduhan yang berlebihan. Namun sayangnya, sikap dewasa dalam berdemokrasi ini tak diikuti oleh para elit politik negeri ini.

Melalui layar televisi atau media massa, rakyat melihat bagaimana para elit politik bersikap. Ada yang bersikap dewasa seperti rakyat Indonesia, namun ada pula yang kurang dewasa.

Seperti layaknya pemilu-pemilu yang lain, beberapa lembaga melakukan quickcount atau proses hitung cepat. Dalam pemilu presiden kemarin, semua lembaga hitung cepat yang terdaftar di KPU mengeluarkan hasil yang hampir sama, yakni keunggulan untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, dengan selisih angka kemenangan sekitar 9 persen.

Perlu digarisbawahi, bahwa hasil hitung cepat bukanlah hasil resmi pemilu. Pada saatnya nanti, hasil resmi pemilu tetap menunggu perhitungan suara secara manual dari KPU, yang akan diumumkan paling lambat 35 hari setelah pencoblosan, atau tanggal 22 Mei 2019.

Namun perlu dicermati pula, proses hitung cepat, jika dilakukan oleh lembaga yang kredibel, memiliki tingkat akurasi yang tinggi, mendekati hasil hitung manual KPU. Secara teori, tingkat akurasi hitung cepat bis amencapai 2 persen.

Artinya jika selisih suara di atas 2 persen, bisa dikatakan, sangat sulit proses hitung cepat akan salah dan hasilnya berbalik. Sejak pemilihan Presiden Indonesia dilaksanakan secara langsung oleh rakyat, proses hitung cepat telah dilakukan.

Belum ada catatan buruk, terkait hasil proses hitung cepat lembaga yang kredibel, kecuali saat pilpres 2014 lalu. Saat itu ada beberapa lembaga hitung cepat mengeluarkan hasil yang berbeda dengan hasil akhir KPU. Namun akhirnya semua lembaga hitung cepat yang ‘keliru’ itu seolah menghilang dari peredaran.

Namun apapun reaksi para elit politik, hitung cepat adalah sarana memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk mengetahui hasil pemilu lebih cepat dari hasil hitung manual.

Hasil akhir tetap ada di tangan KPU. Yang terpenting, marilah menunggu hasil KPU dengan tenang, riang gembira, tak memprovokasi, kalau perlu sambil tebak-tebakan, apakah hasil hitung cepat semua lembaga survei itu akan sama dengan KPU. (*)

Penulis: erwin adrian
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved