Sang Kolektor Surat Suara Asal Kudus, Paling Kuno Milik Dokter Suhendro Saat Pemilu 1957

Pria kelahiran Tegal 26 Oktober 1946 itu membeberkan, naluri untuk mengumpulkan surat suara sudah dimilikinya sejak kecil.

Sang Kolektor Surat Suara Asal Kudus, Paling Kuno Milik Dokter Suhendro Saat Pemilu 1957
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Dokter Suhendro memperlihatkan lembaran surat suara terkuno miliknya, yakni dalam gelaran Pemilu 1957 dimana pesertanya kala itu ada 64 partai politik. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Gelaran Pemilu 2019 sudah berlangsung.

Sebagian masyarakat pun telah datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk menyalurkan suaranya dengan cara mencoblos.

Tak terlepas dari perhelatan pesta demokrasi di Indonesia itu, ada sisi lain yang menarik dan unik.

Di Kabupaten Kudus, ada seorang dokter yang ternyata memiliki hobi berkait pemilu.

Dokter Suhendro, begitu masyarakat setempat memanggilnya.

Dia dikenal sebagai kolektor surat suara berikut pernak-perniknya.

Pria berusia 72 tahun yang tinggal di Jalan Tanjung Desa Kramat, RT 02 RW 03 Kecamatan Kota Kudus itu menuturkan alasannya mengoleksi benda-benda tersebut.

Menurutnya, karena tidak banyak orang punya, juga terhitung barang langka.

"Menurut saya, surat suara ini merupakan sesuatu yang langka. Tidak banyak orang berpikiran untuk mengoleksinya," kata Suhendro di kediaman sekaligus tempat praktiknya.

Pria kelahiran Tegal 26 Oktober 1946 itu membeberkan, naluri untuk mengumpulkan surat suara sudah dimilikinya sejak kecil.

Sehingga saat dia menemukan surat suara di manapun pasti akan disimpannya.

"Untuk mengumpulkan surat suara butuh waktu lama. Kalau saya punya enam macam, berarti butuh waktu 30 tahun," katanya.

Untuk mendapatkan surat suara, katanya, juga tidak mudah.

Dia harus melewati beberapa pemilu untuk mendapatkannya.

"Pemilu di Indonesia sudah 9 atau 10 kali. Tidak tahu data lengkapnya. Tetapi saya punya catatan koleksinya," kata dia.

Suhendro menuturkan, koleksi surat suara berikut pernak pernik miliknya ada ratusan lembar.

Adapun surat suara paling lama yang dimilikinya yaitu Pemilu 1957 yang diikuti 64 partai politik.

Surat suara tertua itu didapat secara tidak sengaja.

Saat itu dia sedang jalan-jalan di tempat loak buku.

Di sana dia menemukan surat suara Pemilu 1957 yang dijadikan bungkus.

Instingnya pun jalan, jika barang tersebut disimpan, ke depan akan jadi kenang-kenangan generasi berikutnya.

"Saat itu dijadikan bungkus, kok bagus, saya minta beberapa lembar. Itu baru satu. Kemudian setiap pemilu saya berusaha untuk dapat surat suara untuk melengkapi," katanya.

Sementara surat suara lainnya yang dikoleksi didapat dari temannya.

Ada juga yang didapat dari pemulung.

"Kalau pernak-pernik, saya dapat dari teman setelah selesai pemilu. Kalau yang lama dapat dari penjual atau pemulung kertas," katanya.

Selain surat suara, pernak-pernik pemilu dia juga punya seperti stiker, surat panggilan, promosi, dan lainnya.

Dia juga mengkliping media cetak, baik koran maupun majalah, yang memberitakan even demokrasi itu.

Yang dia sayangkan dan belum terealisasi yakni memiliki foto-foto penyelenggaraan pemilu di masa lampau.

"Bisa dilihat di koran lama, betapa riuh rendahnya masa kampanye pada masa lalu," katanya sambil menunjukkan koleksinya.

Ada juga koleksi miliknya berupa stiker caleg pada masa lampau.

Katanya, stiker itu didapat langsung dari caleg, karena tahu jika dirinya suka mengoleksinya.

"Pernah dapat stiker dari organisasi radio. Waktu itu paling cepat menyampaikan berita lewat radio," kata dia. (Rifqi Gozali)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved