Hujan Deras Buat Belasan Hektare Kebun Bunga dan Sayur di Bandungan Terancam Gagal Panen

Hujan deras di Dusun Tarukan, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, akibatkan belasan hektar kebun bunga dan sayur terancam gagal panen

Hujan Deras Buat Belasan Hektare Kebun Bunga dan Sayur di Bandungan Terancam Gagal Panen
facebooker
Dampak Banjir di Jateng, Belasan Hektare Tanaman Petani Gagal Panen, yang tersebar di beberapa kabupaten 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Hujan deras selama setengah jam di Dusun Tarukan, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Sabtu (20/4/2019) sore mengakibatkan belasan hektar kebun bunga dan sayur terancam gagal panen.

Selain itu, akibat hujan deras, puluhan rumah kebanjiran RT 5 RW 4, bahkan satu rumah hampir roboh akibat terjangan air dari puncak bukit.

Air hujan bercampur lumpur masuk ke dalam rumah dan meluncur ke jalan raya.

Akibat banjir tersebut, tidak sedikit pengendara sepeda motor yang kebetulan melintasi daerah tersebut nyaris terbawa arus air.

Tauhid Hidayatullah, Ketua RT 5 RW 4 Dusun Tarukan, Desa Candi mengatakan air bercampur tanah dan bebatuan yang mengguyur jalan utama menuju Candi Gedongsongo berasal dari pembangunan sub terminal yang berada di depan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Gedongsongo.

Wereng dan Jamur Bikin Petani di Brebes Terancam Gagal Panen

"Air masuk ke gorong-gorong tapi karena tidak muat sehingga tumpah ke jalan raya hingga masuk ke pemukiman warga," ujar Tauhid.

Tauhid menambahkan, akibat kejadian ini sudah beberapa kali dan warganya terdampak atas kejadian ini.

Beberapa hari lalu sebuah gudang toko mengalami kerusakan berakibat bahan makanan di gudang terendam air.

"Hari ini kolam warga kami megalami kerusakan. Kami perkirakan kerugian atas banjir ini ratusan juta karena selain pemukiman, kebun bunga dan sayur warga juga mengalami kebanjiran dan terancam gagal panen," tegas Tauhid.

Warga Dusun Tarukan, Desa Candi, Sulistyo turut menambahkan aliran air ini mestinya normal, tapi sejak beberapa tahun lalu ada aliran sungai sepanjang 100 meter dari pertigaan tanjakan Gedongsongo hingga 100 meter ke bawah ditutup sejumlah oleh pihak tertentu, kemudian dibangun ruko.

"Sementara sungai selebar kurang lebih enam meter ditutup, diganti dengan gorong-gorong selebar 80 cm, dulu air berapa pun dari arah Candi Gedongsongo mampu ditampung sungai, tapi sekarang air hujan langsung meluap ke jalan," keluhnya.

Sulistyo berharap pemerintah segera mengembalikan sungai sesuai semestinya, serta menertibkan bangunan yang telah menutup sungai.

"Sungai saat itu merupakan bentukan alam, tapi mampu menampung luapan air berapa pun. Saat ini diganti gorong-gorong biasa justru meluap ke jalan dan masuk ke rumah warga," pungkasnya. (arh)

Penulis: amanda rizqyana
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved