Empat Calon Rintisan Desa Wisata di Wonosobo Ikuti Pembekalan Disporapar Jateng

Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah (Jateng) menggelar pembekalan 'Pengembangan Daya Tarik Wisata

yayan isro
Praktisi Pariwisata sekaligus pengajar FEB UKSW Salatiga, Eko Suseno, ‎menunjukkan berbagai macam kerajinan dari daerah-daerah yang pernah dikunjunginya, guna memantik kreativitas peserta pembekalan Pengembangan Daya Tarik Wisata Disporapar Jateng. (yan) 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - ‎ Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah (Jateng) menggelar pembekalan 'Pengembangan Daya Tarik Wisata' untuk empat desa calon rintisan desa wisata di Kecamatan Mojotengah, di Hotel Surya Asia, Wonosobo, Senin-Selasa (22-23/4). Keempat desa tersebut, ‎Deroduwur, Sukorejo, Candirejo, dan Slukatan.

Ketua Panitia Penyelenggara Pengembangan Daya Tarik Wisata Tahun 2019 Disporapar Jateng, Riyadi Kurniawan, mengatakan ‎kegiatan ini sengaja digelar untuk menggali potensi wisata dan kemandirian ekonomi desa.

Sehingga, desa yang sebelumnya masuk zona merah kemiskinan, bisa bergeliat dan mandiri secara ekonomi.

"Program ini, guna menekan angka kemiskinan seminimal mungkin, dengan mengangkat potensi wisata di desa-desa tersebut," katanya, di sela-sela acara. Diakui, Desa Deroduwur dan ketiga desa laiinnya tersebut saat ini masuk dalam zona merah kemiskinan.

Hari pertama kegiatan, sambungnya akan diisi materi motivasi dan penggalian potensi. Selanjutnya, hari kedua, selain materi di ruangan, juga akan diisi pemetaan lapangan terkait potensi wisata yang sebelumnya telah diidentifikasi.

"Hari pertama, terkait dasar-dasar pembentukan desa wisata yang dipaparkan oleh Alif Fauzi, pegiat wisata Desa Wisata Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, yang juga penggagas Dieng Culture Festival (DCF). Serta, motivasi dan peran serta masyarakat untuk pariwisata oleh Eko Suseno HRM dari UKSW Salatiga," ucap Riyadi.

Dalam paparannya, Alif mengungkapkan pembentukan desa wisata memang tak semudah membalik telapak tangan. Menurutnya, butuh proses panjang untuk meyakinkan masyarakat serta komitmen orang-orang yang terlibat di dalamnya.

"Saya dulu butuh bertahun-tahun untuk merubah stigma masyarakat terkait desa wisata, apalagi ddulu euforia desa wisata belum seperti ini. Memang tak gampang, tapi kuncinya ada di silaturrahim, kita lakukan pendekatan terus menerus," ucapnya.

Menurut dia, untuk membentuk desa wisata, diperlukan branding yang kuat. Sementara, proses membangun branding bukan sesuatu yang gampang. Di samping itu, pemetaan pangsa pasar wisatawan juga sangat penting.

"Karena dengan mengetahui potensi pasar wisatawan‎ yang ada, kita bisa menentukan akan dikemas seperti apa desa wisata kita," tuturnya.

Halaman
12
Penulis: yayan isro roziki
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved