FOKUS: Makan Aspal Bikin Bergairah

TAK semua setuju dengan pembangunan infrastruktur. Banyak yang mencibir mereka tak butuh aspal untuk membuat perut kenyang.

FOKUS: Makan Aspal Bikin Bergairah
Tribun Jateng
Galih Permadi 

Oleh Galih Permadi

Wartawan Tribun Jateng

TAK semua setuju dengan pembangunan infrastruktur. Banyak yang mencibir mereka tak butuh aspal untuk membuat perut kenyang. Ya, itu pandangan mereka, tapi menurut saya pembangunan infrastruktur tak secara langsung membuat perut kenyang, tapi akan mengenyangkan.

Berbicara infrastruktur, tentu paling getol adalah Presiden Jokowi. Dari lingkup kota, saya tahu Wali Kota Hendrar Prihadi yang getol mempercantik wajah kota dan membangun infrastruktur lain di Kota Semarang. Lalu ada sosok Tri Rismaharini yang mengubah wajah Surabaya.

Di kota kelahiran saya, Purworejo, ada sosok Bupati Agus Bastian. Ya, selama 33 tahun usia saya, “hanya” Agus Bastian yang berani mengubah wajah Purworejo. Tentu ini menjadi langkah berani bupati, dengan PAD yang tidak begitu besar, Agus Bastian berani menganggarkan perubahan wajah alun-alun Purworejo. Tentu akan lebih populis jika dia membuat kebijakan yang mengenyangkan warga. Tapi kalau urusan perut tentu tak akan ada habisnya.

Hidup di Purworejo, lalu merantau, perubahan sekecil apapun untuk kota kelahiran tentu diharapkan. Sebelum Agus Bastian, saya menganggap kota kelahiran saya hanya begitu-begitu saja. Mung ngono tok.

Perubahan yang dilakukan Agus Bastian tak sebanding dengan yang dilakukan Hendi, Risma, bahkan Jokowi. Hingga kini, dia hanya memperbaiki wajah alun-alun Purworejo dan membuat taman di beberapa tempat. Lalu mengembangkan sejumlah desa wisata hingga terakhir melahirkan Glamping De Loano. Kecil tapi membuat saya, mungkin juga sebagian warga membuat semakin bergairah.

Perubahan wajah alun-alun Purworejo membuat warga berduyun-duyun menikmati pagi dan sore hari di sana. Dengan bangga mereka berswa foto mengenalkan wajah baru Purworejo. Kekuatan media sosial sedikit banyak membantu promosi Purworejo.

Pemilik warung kelontong atau warung makan di sekitaran alun-alun tentu mendapat berkah, delman wisata mendulang rupiah. Hasilnya bisa mengenyangkan orang rumah.

Pelaku seni juga ikut bergairah. Mereka bisa menunjukkan kreasinya dengan dibangunnya panggung di satu sudut alun-alun. Kini, banyak event musik dan kesenian digelar di sana. Tentu mereka “kenyang” secara batin bisa tampil dihadapan puluhan hingga ratusan orang.

Tampil di panggung juga bisa jadi ajang promosi diri. Tak menutup kemungkinan mereka “ditanggap” dan mendapatkan penghasilan. Mereka pun bisa hidup dan jadi kenyang.

Generasi milenial Purworejo semakin bergairah untuk berkreasi. Mereka disediakan tempat berkumpul untuk menciptakan gagasan baru. Atau hanya sekadar jadi youtuber yang menjadikan latar wajah baru alun-alun yang “ngga malu-maluin amat”. Dari sana, ia mendulang rupiah dari adsense lalu untuk sekadar ngopi atau makan angkringan bareng teman-teman. Kenyang!

Apalagi ditambah pembangunan Bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) di Kulonprogo yang lokasinya sepelemparan batu dari Purworejo membuat berbagai pihak bergairah. Terutama sektor pariwisata, UMKM, dan perhotelan.

Tak menutup kemungkinan wisatawan atau pebisnis sekadar nginap semalam atau mampir ngopi di Purworejo sembari menunggu jadwal penerbangan. Tak menutup kemungkinan pula mereka menghamburkan segepok uang untuk membeli oleh-oleh, kerajinan, atau cinderamata khas Purworejo.

Masih banyak contoh multiplier effect dari pembangunan infrastruktur, meski dampak dari pembangunan harus ada yang dikorbankan. Tinggal warga bisa memanfaatkannya atau tidak. Seperti pepatah ora obah ora mamah. Jika bisa memanfaatkan, infrastruktur “makan aspal” yang bikin bergairah.(*)

Penulis: galih permadi
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved