FOKUS : Batal Pesta

"Nek ngene iki yo malah dadi repot. Karepe golek duit tambahan, malah nyawane ilang. Trus sing nanggung keluargane sopo?

FOKUS : Batal Pesta
tribunjateng/bram
ARIEF NOVIANTO Wartawan Tribun Jateng 

Oleh Arief Novianto
Wartawan Tribun Jateng

"Nek ngene iki yo malah dadi repot. Karepe golek duit tambahan, malah nyawane ilang. Trus sing nanggung keluargane sopo? Bojone anake kan yo isih butuh mangan (kalau begini ini kan malah jadi repot. Inginnya nyari uang tambahan, malah nyawanya hilang.

Terus siapa yang nanggung keluarganya? Istri anaknya kan juga masih butuh makan-Red)," kata seorang tetangga saya dalam sebuah diskusi ngalor-ngidul di pos ronda kampung, kemarin malam.

Hal itu diungkapkan menanggapi banyaknya petugas dalam gelaran pemilu 2019, baik dari unsur penyelenggara maupun pengawas yang meninggal dunia akibat kelelahan. Belum lagi, banyak petugas yang jatuh sakit, bahkan ada yang harus kehilangan pekerjaannya karena kesibukan luar biasa dari tugas Negara yang diemban.

Data terakhir mencatat, ada sebanyak 139 petugas pemilu 2019 yang meninggal dunia. Dari jumlah itu, sebanyak 32 di antaranya adalah petugas pemilu di Jateng, yang tersebar di Demak, Banyumas, Sukoharjo, Banjarnegara, Purbalingga, Grobogan, Rembang, Magelang, Klaten, Batang, Kudus, Pekalongan, Kendal, Pemalang, Semarang, dan Brebes.

Selain itu, KPU juga mencatat sebanyak 249 petugas TPS yang kelelahan dan harus dirawat di rumah sakit. Bahkan, tiga orang di antaranya mengalami keguguran.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya para petugas demokrasi itu. Ia pun berjanji akan memberikan santunan kepada keluarga petugas pemilu yang meninggal dunia maupun yang dirawat di rumah sakit.

"Insyaallah Jumat besok (hari ini-Red) akan kami berikan santunan. Tidak hanya yang meninggal, tapi yang sakit juga akan kami berikan. Kami sudah punya datanya," katanya, di Semarang, Rabu (24/4).

Menurut dia, pemilu tahun ini cukup menjadi perhatian. Ada sejumlah catatan-catatan, baik tentang kesehatan maupun tekanan bekerja yang membutuhkan waktu dan tenaga cukup besar.

"Sehingga kayaknya kita mesti me-review ulang agar ke depan jauh lebih baik. Apa yang terjadi ini harus dievaluasi total. Rasanya mungkin pelaksanaannya tidak serentak kali ya, atau penyerentakannya bisa ditata ulang," paparnya.

Yah, meski hidup, mati, dan rezeki ada di tangan Tuhan, atau mungkin sudah menjadi takdir, para petugas yang meninggal karena kelelahan itu bisa jadi masih hidup, sementara yang lain masih tetap bekerja normal jika tidak memaksakan diri ikut berpartisipasi mengawal jalannya demokrasi di Negeri ini. Sayang, hal itu tampaknya belum cukup disadari pihak-pihak terkait pemilu, termasuk pemerintah.

Seorang teman saya yang saat ini terlibat sebagai pengawas pemilu mengatakan, pekerjaan yang diamanatkan kepadanya memang berat, dan tidak bisa disebut pekerjaan sambilan, karenya menyita waktu, pikiran, dan tenaga yang luar biasa besar. Ia bahkan kini dikeluarkan dari pekerjaannya, karena dinilai tidak produktif selama masa tahapan pemilu hingga coblosan.

Ia pun belum tahu ke depan harus bagaimana, mengingat setelah proses pemilu ini selesai, dia tak lagi memiliki pekerjaan untuk menafkahi keluarganya. "Demi mengawal demokrasi saya sampai dipecat dari pekerjaan. Kalau begini, setelah pemilu selesai, anak dan istri saya makan apa? Apa Negara mau mengerti?" ujarnya.

Berbagai hal itu tampaknya perlu menjadi perhatian serius pemerintah, dan menjadi bahan evaluasi penting, khususnya pihak-pihak terkait dalam terlaksananya pemilu. Jangan sampai pesta demokrasi itu justru menjadi petaka bagi sebagian masyarakat yang terlibat di dalamnya, atau mereka bahkan tidak merasakan pesta sama sekali, dan sebagian lain merasakan duka yang mendalam.

"Wis kesel, pikiran, aku malah dipecat soko gaweanku. Nasib-nasib. Aku ora sido pesta nek ngene iki (Sudah lelah, pikirannya berat, saya malah dipecat dari pekerjaan. Nasib-nasib, saya tidak jadi pesta kalau seperti ini-Red)," tukas teman saya. (*)

Penulis: arief novianto
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved