Ngopi Pagi

FOKUS : Berhusnuzan

Menjelang hingga pascapemilu 2019, mendadak semua orang pandai berbicara. Umumnya hal yang dibicarakan tak jauh dari menggunjing

FOKUS : Berhusnuzan
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

Oleh Rustam Aji

Wartawan Tribun Jateng

Berkata kadang lebih mudah ketimbang tindakan. Itulah yang mafhum terjadi di masyarakat kita. Pun demikian yang terjadi saat ini. Menjelang hingga pascapemilu 2019, mendadak semua orang pandai berbicara. Umumnya hal yang dibicarakan tak jauh dari menggunjing dan menjelekkan orang lain (suuzan), seolah hanya diri kitalah yang paling hebat dan sempurna. Jarang sekali kita memuji (husnuzan) orang lain.

Budaya suuzan seolah telah mendarah daging di masyarakat kita ketimbang berlaku husnuzan. Lebih-lebih pada perilaku politik. Yang ada pada lawan politik, seolah hanya sebuah kejelekan.

Karena itu, tak berlebihan kiranya bila kemudian pascapemilu ini kata-kata saling menyindir, mencaci maki, dan membodoh-bodohkan masih sering kita jumpai, entah itu dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam bersosial media.

Sadarlah bahwa kalau kita (masih) dianggap baik, itu karena Tuhan sedang menutupi keburukan perbuatan kita. Sehingga yang tampak adalah hal-hal baik di mata orang lain.

Kenapa kita tidak mengembangkan budaya husnuzan? Membiasakan berkata baik dan berbaik sangka, jelas akan lebih baik ketimbang (selalu) bersuuzan. Padahal, sikap suuzan bisa membuat tindakan kita jadi tidak realistis. Karena setiap sikap diliputi oleh prasangka dan keburukan. Pada saat yang sama, keputusan yang diambil karena sifat suuzan, akan merugikan diri kita, bahkan mungkin membahayakan nyawa orang lain.

Suuzan hanya menjadikan psikologis kita serba curiga dan tidak mudah percaya pada orang lain. Apalagi, bila suuzan itu dibangun atas rasa kebencian yang sangat karena beda pilihan. Ini jelas sangat membahayakan bagi keberlangsungan demokrasi. Kehidupan demokrasi pada akhirnya hanya akan melahirkan dendam. Dan, itu tidak mudah untuk mendamaikannya.

Pemilu 2019 sudah usai, siapa pun yang terpilih, marilah tanggalkan sikap keegoisan dan suuzan. Mulailah bangun sikap husnuzan. Tentu tidak sekadar dalam ucapan, namun juga tindakan. Niscaya, the power of suuzan, mampu melahirkan energi postif untuk mendamaikan suasana panas pascapemilu.

Sikap berlebihan atau melebih-lebihkan calon yang kita dukung pada akhinya hanya akan melahirkan sikap kekecewaan yang amat sangat, bila akhirnya tak memenuhi ekspektasi. Demikian halnya sebaliknya, sikap membenci yang berlebihan pada orang yang beda pilihan, hanya akan melahirkan permusuhan yang tidak berujung.

Karena itu, bangunlah sikap husnuzan. Sikap yang selalu menghargai orang lain. Sikap yang selalu mengedepankan akal sehat. Dan, sikap yang tak mau menyalahkan orang lain. Budaya seperti inilah yang mestinya kita pupuk dalam kehidupan bermasyarakat maupun politik, sehingga melahirkan suasana sejuk di masyarakat.

Tidak ada gunanya kita selalu berpolemik dalam hal urusan politik. Apalagi, tidak ada untung yang kita dapatkan, kecuali rasa sesal. Sebab, yang mendapat keuntungan dari itu jelas bukan kita tetapi mereka yang ada dalam lingkaran kekuasaan. Selebihnya, kita hanya bisa menyaksikan mereka menikmati kekuasaan tanpa peduli apa yang terjadi pada kita. (*)

Tags
Fokus
Penulis: rustam aji
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved