Refleksi HUT Tribun Jateng: Apa yang Kami Perjuangkan Selama Enam Tahun?

TIDAK terasa sudah enam tahun Tribun Jateng menjadi teman akrab masyarakat Jawa Tengah. Usia yang masih belia.

Refleksi HUT Tribun Jateng: Apa yang Kami Perjuangkan Selama Enam Tahun?
IST
Cecep Burdansyah, Wartawan Tribun Jateng 

Oleh Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng

Salam Tribun,

TIDAK terasa sudah enam tahun Tribun Jateng menjadi teman akrab masyarakat Jawa Tengah. Usia yang masih  belia. Bagi manusia, usia enam tahun masih tergolong anak-anak. Tapi bagi institusi media, usia enam tahun harus sudah menunjukkan kematangan dalam mengenali apa yang dibutuhkan masyarakat. Untuk itu, kami hadir selama enam tahun dan cukup paham apa yang dibutuhkan masyarakat Jawa Tengah. Masyarakat yang heterogen, egaliter, terbuka dan  cukup kuat literasi medianya.

Hal itu dibuktikan dengan penerimaan masyarakat atas kehadiran kami. Sejak dari awal hingga sekarang dalam usia enam tahun, kami diterima dengan sangat baik. Pertumbuhan pembaca terus meningkat dari hari ke hari.  Meskipun banyak yang menganggap kini bukan era media kertas lagi, dan sudah berubah ke media digital, buktinya distribusi koran kami terus melebar ke seluruh pelosok Jawa Tengah. Tentu saja hal itu atas permintaan para pembaca yang membutuhkan informasi  akurat dan terpercaya. Begitu pula relasi kami, para pemasang iklan, terus berdatangan menaruh kepercayaan pada kami untuk mengiklankan produknya.  Kepercayaan pembaca dan pemasang iklan itu jelas menuntut kami harus bekerja lebih sigap dan profesional. Kami melakukannya dengan sepenuh hati dan rasa gembira.

Kami percaya, di masyarakat yang modern seperti di Jawa Tengah, media koran akan mampu hidup berdampingan dengan media digital. Anggapan bahwa media digital akan menyingkirkan media konvensional seperti koran, tidak sepenuhnya benar. Memang banyak media yang berguguran di tengah menjamurnya media online atau daring.  Tapi, jika kita amati dengan seksama, kekalahan itu bukan karena kalah bersaing dengan media daring, tapi etos kerja dan sikap profesionalisme yang lemah. Ada pesaing atau pun tidak ada pesaing, inovasi adalah keniscayaan. Mungkin karena kemapanan-lah yang membuat sebuah manajemen koran lupa bahwa kebutuhan masyarakat mulai berubah. Bukan karena pembaca beralih ke media online, tapi pembaca butuh diferensiasi, baik dari segi isi maupun penyajian.

Kami sadar. Selain terus berinovasi di platform koran, kami juga menganggap penting media daring. Era digital bukan untuk dihindari, tapi harus disambut dengan optimisme.  Karena itu kami hadir juga dalam platform media online. Kami tahu perbedaan dan persamaan kedua platform tersebut.  Perbedaannya, di satu sisi, versi koran memerlukan kedalaman, sementara versi online membutuhkan kecepatan. Namun, persamaannya tak kalah penting, yaitu kecermatan dalam menggali fakta dan verifikasi. Bagi kami, verifikasi adalah segalanya. Karena di situlah letak kredibilitas sebuah berita. Itulah yang kami pertahankan dan perjuangkan selama enam tahun dan seterusnya.

Mengapa verifikasi? Platform media boleh berubah. Makin banyak variasi platform, makin banyak pilihan. Tapi jantung jurnalistik adalah verifikasi. Sebuah kabar tanpa verifikasi akan menjurus menjadi penghakiman, bahkan ujungnya menjadi hoaks alias berita palsu dan bohong.  Verifikasi, sebagai prinsip jurnalistik, hingga kapan pun tak akan berubah hanya karena tren digital. Verifikasi merupakan pertaruhan jurnalistik.

Kami yakin, semua orang, termasuk Anda sebagai pembaca kami, mengetahui bahwa sekarang ini era-nya gaduh dengan berita-berita di media sosial. Hampir tiap saat, seakan tak mengenal waktu, kita menerima informasi melalui media sosial, baikTwitter, Facebook, dan yang terutama Whatsapp.  Jika kita tak punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup dalam membedakan berita hoaks dan berita yang akurat, kita bisa tersesat dalam hiruk pikuknya informasi. Buktinya, memang banyak masyarakat yang jadi korban hoaks. Tak terbilang lagi, berapa warga awam yang terjerat kasus hukum gara-gara ikut menyebarkan hoaks.

Media sosial memang menjadi riuh dengan percakapan warga.  Dilihat dari perspektif filsafat deliberasi Habermas, dengan makin terbukanya ruang publik untuk mempercakapkan kepentingan publik, memang sesuatu yang positif, karena keterlibatan warga menjadi lebih mungkin dan intens. Namun yang harus diwaspadai, benturan kepentingan pun menjadi mungkin. Partisipasi publik tidak semata-mata harus dimaknai  sebagai kritik untuk memperbaiki kebijakan publik, tapi tak sedikit partisipasi itu merupakaan celaan, hinaan, fitnah dan sarat kebencian kepada pembuat kebijakan publik.  Inilah problem media sosial, terutama Whatsapp, yang oleh para pemikir sering disebut sebagai dark social.

Di tengah gaduhnya informasi di media sosial, kami terus tegar untuk hadir menyajikan berita yang steril dari kepentingan tertentu. Bagi kami, kepentingan publik merupakan piijakan dalam setiap menulis berita. Pembaca pun dipersilakan menyampaikan kritik dan masukan. Sebab, tanpa kritik dan masukan, kadang kami merasa benar sendiri. Jurnalisme tanpa kontrol dan kritik dari pembacanya hanyalah jurnalisme kesepian. Artinya, produk jurnalistiknya tak ada yang membaca.

Alhamdulillah kami selalu mendapat masukan dan kritik dari pembaca. Itu merupakan tanda bahwa kami selama ini mempunyai teman sejati.

Sekali lagi, kami menghaturkan terima kasih kepada masyarakat Jawa Tengah khususnya, dan umumnya kepada seluruh masyarakat Indonesia. (*)

Penulis: cecep burdansyah
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved