Ngopi Pagi

FOKUS : Pindah Ibukota

'Rakyat negeri ini sudah berpengalaman dalam hal pindah-memindah ibukota, atau kota tempat kedudukan pusat pemerintahan suatu negara.

FOKUS : Pindah Ibukota
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Oleh Sudjarwo

Wartawan Tribun Jateng

'Rakyat negeri ini sudah berpengalaman dalam hal pindah-memindah ibukota, atau kota tempat kedudukan pusat pemerintahan suatu negara. Pada awal 1946, setahun setelah medeka, ibukota Republik Indonesia (RI) berpindah ke Yogykarta.

Perpindahan ini antara lain karena situasi di ibukota RI di Jakarta yang sangat tidak aman. Pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda, mulai melakukan razia-razia dan penangkapan atas pejuang kemerdekaan Indonesia.

Pada 2 Januari 1946, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII mengirimkan surat melalui kurir yang mempersilakan bila pemerintah RI bersedia memindahkan ibukota RI ke Yogyakarta.

Tawaran ini pun segera disambut baik oleh Bung Karno dan kawan-kawan yang segera membahas persiapannya keesokan harinya dalam sidang kabinet tertutup. tepat 4 Januari 1946 ibukota RI pindah ke Yogyakarta.arta.

Pada zaman kerajaan, pada abad 8 di Jawa Tengah berdiri kerajaan besar yang biasa disebut Mataram Kuno. Yang berkuasa dua dinasti, yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra, Wilayah pusat kerajaan ini yang sekarang sebut Yogyakarta.

Kerajaan Mataram Kuno memiliki kemakmuran dan peradaban yang luar biasa sehingga mampu membangun candi seperti Prambanan dan Borobudur. Namun pada abad ke-10, karena letusan Merapi yang dahsyat, kerajaan ini memindahkan pusat pemerintahannya ke wilayah Jawa Timur.

Enam abad kemudian lahir kerajaan Mataram Baru di Alas Mentaok, sebuah hutan yang sebenarnya merupakan bekas Kerajaan Mataram Kuno. Desa kecil yang didirikan Ki Ageng Pemanahan di hutan itu mulai makmur.

Lahirlah Kesultanan Mataram yang biasa disebut Mataram Baru. Kerajaan Maratam Baru semula berpusat di Kotagede. Masa pemerintah Sultan Agung dibangun Keraton Karta, sebelah timur Kotagde pada awal 1600. Karta sendiri nama sebuah dusun di Plered, Bantul, Yogyakarta, kurang lebih 4 kilometer di sebelah selatan Kotagede. Karta adalah kompleks keraton Mataram selain Kotagede.

Sepeninggal Sultan Agung, keraton berpindah lagi. Putranya, Raja Amangkurat I dari Mataram. Amangkurat pindah dari keraton lama di Karta, membangun keraton di Plered pada sekitar 1666. Letaknya sendiri sebelah timur laut Karta.

Pusat Kerajaan Mataram Baru kembali berpindah ke Wanakerta atau Kartasura, sekitar 10 km arah barat Solo. Pada masa Amangkurat II, karena kondisi pusat kerajaan yang rusak akibat perlawanan Trunajaya, dan akhirnya berpindah ke Sala atau Surakarta setelah tragedi peristiwa Geger Pacina tahun 1742. Ada yang menyebut kala itu sebagai bedol keraton.

Terkini, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebut Presiden Jokowi memastikan ibukota Jakarta akan pindah ke luar Pulau Jawa. Kepastian itu diputuskan seusai rapat pembahasan ibu kota baru di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (29/4/2019). Dan, sebuah kewajaran jika memang nanti Ibukota Jakarta harus pindah karena berbagai alasan tepat. (*).

Penulis: sujarwo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved