Intip Ketan, Kudapan Khas Kudus Yang Dijual Hanya saat Jelang Ramadan
Rasanya gurih dan sedikit manis. Kudapan ini menjadi sangat spesial karena tidak setiap hari bisa dijumpai.
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: galih pujo asmoro
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Rasanya gurih dan sedikit manis.
Kudapan ini menjadi sangat spesial karena tidak setiap hari bisa dijumpai.
Nama makanan itu intip atau kerak ketan.
Kudapan ini sangat khas di Kudus.
Adanya saat tradisi Dandangan digelar.
Mungkin bagi warga Kudus sudah mafhum, Dandangan merupakan tradisi menyambut datangnya Ramadan.
Tahun ini, Dandangan digelar sejak 26 April hingga 5 Mei 2019.
Hal itu ditandai dengan adanya pedagang kaki lima yang menggelar lapak di sepanjang Jalan Sunan Kudus.
Berbagai barang maupun makanan dijual di lapak-lapak itu.
Namun, yang khas dari Dandangan yaitu adanya penjaja intip ketan.
Salah satunya yaitu di lapak Suprapti (42) yang berada di depan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Kudus.
“Kudapan ini adanya saat Dandangan. Kalau hari biasa tidak ada,” kata perempuan asal Desa Barongan, Kecamatan Kota Kudus.
Kudapan yang dihargai Rp 2.500 per buah itu selalu menjadi buruan pengunjung Dandangan.
“Kalau tidak Dandangan, saya jualan minuman dan makanan ringan,” kata Prapti, sapaannya.
Intip pada umumnya memiliki tekstur keras.
Untuk intip ini, ketan teksturnya lembek.
Setiap pembeli yang datang, dengan cekatan Suprapti membuatkan pesanan.
Umumnya mereka membeli Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu.
Prapti butuh waktu kurang lebih 2 menit untuk membuat satu intip.
Tidak ada minyak dalam proses pembuatan.
Ketan yang dicampur parutan kelapa langsung dituang di atas wajan dengan perapian kecil dari kompor gas.
Bagi pembeli yang ingin menikmati intip dengan sensasi gosong, dia pun melayaninya.
Atau, bagi anak-anak yang suka manis, biasanya ditambahkan gula pasir saat proses pembuatan intip.
“Jadi saat disajikan masih hangat. Cocok untuk camilan, apalagi menjadi teman kopi atau teh,” kata dia.
Di awal Dandangan, dia menghabiskan 4 kilogram ketan.
Dengan bahan baku sebanyak itu, dia bisa membuat sampai 450 intip.
Semakin mendekati Ramadan, biasanya dia menambah ketan hingga 15 kilogram.
Hal itu selaras dengan semakin ramainya pengunjung Dandangan.
“Kalau semakin dekat Ramadan, pengunjung semakin banyak. Jadi pembeli juga semakin banyak, bahan baku berupa ketan juga saya tambah,” jelasnya.
Lalu, kenapa saat hari biasa dia enggan membuat intip ketan?
Sebab, menurutnya, dia ingin menjaga kekhasan intip ketan.
Pasalnya, sudah sejak lama intip ketan merupakan makanan yang hanya bisa ditemui saat Dandangan.
“Jadi, hari biasa ada yang ingin intip ketan ditahan dulu sampai Dandangan tiba,” lanjutnya.
Ibu tiga anak itu sudah sejak lima tahun terakhir menjajakan intip ketan di arena Dandangan.
Keahliannya membuat intip didapat dari ibunya.
Semula, dia hanya membantu sang ibu.
Namun, semenjak ibunya meninggal, kini dia membuka lapak sendiri dengan dibantu suami dan anaknya.
“Saat ini sudah banyak yang paham. Bahkan ada pembeli langganan saat Dandangan,” ucap dia.
Salah satu pelanggan intip ketan yaitu Harry Pujo (41).
Menurutnya, momen Dandangan merupakan kesempatan berbutu intip.
Bahkan hampir setiap hari saat Dandangan tiba, dia menyisihkan waktu untuk datang ke lapak Prapti demi menikmati intip.
“Rasanya khas. Enak dan gurih. Apalagi saat masih hangat,” katanya. (Rifqi Gozali)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/intip-ketan.jpg)