Ponpes Askhabul Kahfi Semarang Peringati Hari Pendidikan Nasional

Dalam acara ini, pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi KH. Masruchan Bisri memaparkan tentang Hari Pendidikan Nasional.

Ponpes Askhabul Kahfi Semarang Peringati Hari Pendidikan Nasional
IST
KH. Masruchan Bisri Pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi Mijen Kota Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG Peringatan Hari Pendidikan Nasional Pondok Pesantren Askhabul Kahfi dilaksanakan di Aula Utama Pondok Pesantren Askhabul Kahfi, Kelurahan Karangmalang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Dalam acara ini, pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi KH. Masruchan Bisri memaparkan tentang Hari Pendidikan Nasional.

Ki Hajar Dewantara lahir pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang berasal dari keluarga lingkungan Kraton Yogyakarta.

Semasa kecil beliau sekolah di Sekolah Dasar ELS (Sekolah Dasar Belanda), kemudian meneruskan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumi Putra), namun tidak sampai lulus dikarenakan sakit.

Setelah dewasa beliau mengganti namanya dengan Ki Hajar Dewantara, dengan tujuan agar dekat dengan masyarakat umum, karena pada umumnya masyarakat pada waktu itu sangat segan dan jauh dari keluarga ningrat.

Ki Hajar Dewantara bekerja sebagai seorang wartawan di beberapa surat kabar, seperti: Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia,dll.

Tulisan-tulisannya mudah dimengerti dan dipahami, isinya menukik, sangat tajam, patriotik serta komunikatif, sehingga banyak kalangan masyarakat yang terinspirasi darinya.

Ki Hajar Dewantara pernah menulis sebuah essay untuk mengkritik pemerintah Hindia-Belanda dengan judul: Als Ik Eens Nederlander Was (seandainya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaanya) dan essay yang berjudul: Een voor Allen maar Ook Allen Voor (satu untuk semua, tetapi semua untuk satu).

Akibat dua tulisannya itu Ki Hajar Dewantara dan dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan dr.Cipto Mangoen Koesoemo, diasingkan oleh Pemerintah Belanda.

Ki Hajar Dewantara selain aktif menulis, dia juga aktif berorganisasi, dia adalah salah satu pengurus Budi Utomo, dan juga pernah mendirikan partai yang bernama: Indische Partij, dengan tujuan meraih kemerdekaan Indonesia, namun partai ini tidak mendapatkan pengakuan hukum, karena di anggap berbahaya dan dapat menggerakkan rakyat untuk menentang Pemerintah Kolonial Belanda.

Halaman
1234
Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved