Ngopi Pagi

Fokus : Politik Itu Dinamis

POLITIK itu kotor, politik itu kejam, adalah kalimat yang sering didengar untuk menggambarkan bagaimana dunia politik.

Fokus : Politik Itu Dinamis
tribunjateng/grafis/bram kusuma
ERWIN Ardian wartawan Tribun Jateng 

Oleh  Erwin Ardian

Wartawan Tribun Jateng

POLITIK itu kotor, politik itu kejam, adalah kalimat yang sering didengar untuk menggambarkan bagaimana dunia politik. Jarang sekali politik digambarkan sebagai sesuatu yang baik. Padahal ibarat sebuah pisau, tak ada pisau yang jahat. Yang ada hanyalah manusia yang menggunakan pisau itu untuk tujuan buruk. Begitu pula politik.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Politik juga dapat dilihat dari sudut pandang berbeda. Aristoteles, seorang filsuf Yunani mendefinisikan politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Di mata Aristoteles, politik adalah mulia. Dengan politik, warga negara bisa mewujudkan kebaikan untuk negara mereka. Namun apa yang terjadi kemudian, tak semulus pandangan aristoteles. Konotasi politik sebagai sesuatu yang kejam dan kotor lebih mengemuka.

Beberapa pekan belakangan, suhu politik di Indonesia memanas, terlebih setelah pemilihan umum presiden dilaksanakan tanggal 17 April. Hiruk-pikuk para elit politik mempertontonkan sesuatu yang membingungkan bagi masyarakat.

Fenomena politik terakhir adalah, bertemunya petinggi Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Presiden Jokowi yang juga Capres 01, di Istana Negara, Kamis (2/5). Bagi orang awam, tentu saja pertemuan ini sangat membingungkan. Semua tahu bahwa AHY ada di kubu capres 02 Prabowo Subianto.

Bahkan AHY pernah digadang-gadang jadi cawapres Prabowo sebelum digeser oleh Sandiaga Uno pada detik-detik akhir. Lalu bagaimana mungkin AHY yang sebelumnya dengan “gagah berani” ikut serta melawan Jokowi dalam ajang pilpres, hanya dalam hitungan minggu setelah pencoblosan, memenuhi undangan bertemu dengan Jokowi?

Di satu sisi, orang juga bingung, kenapa Jokowi justru mengundang AHY dalam pertemuan khusus di istana? Bukankah AHY sudah jelas ada di pihak lawan politik? Namun itulah politik. Orang bilang, selain kejam dan kotor, politik itu dinamis. Jadi sah-sah saja kalau para politisi berpindah-pindah kubu. Bagi mereka, tak ada lawan yang abadi. Toh untuk mencapai tujuan meraih kekuasaan, banyak cara bisa ditempuh.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah, jika para elit politik saja bisa dengan mudah membaur kembali dan saling bertukar posisi, kenapa para pendukung mereka seolah terbelah dan sulit untuk disatukan lagi?

Pertemuan antara AHY dan Jokowi ini belum seberapa. Kita sudah melihat bagaimana Jokowi dan Prabowo yang pernah adu kuat di pilpres 2014, kemudian bertemu dan kembali bercanda, makan siang bareng, naik kuda bareng seolah tak pernah ada perseteruan di antara mereka. Itulah politik.

Setidaknya pertemuan dua tokoh yang beberapa pekan lalu berada di dua kubu berbeda, bisa menjadi contoh bagi para pendukung. Dalam politik, tak ada lawan yang abadi. Begitu juga seharusnya, tak ada pendukung yang abadi.

Seiring pertemuan para elit politik, marilah kita yang mendukung kubu berbeda, saling bertemu, boleh sekadar ngopi bareng, makan bareng, atau berkuda bareng kalau punya kuda untuk mengembalikan hubungan persahabatan yang sempat terganggu.

Apapun hasil pemilu nanti, janganlah perbedaan pilihan membuat rakyat terus terbelah, sementara para elit yang mereka dukung sudah mesra bercengkerama demi meraih kekuasaan yang diidamkan. (*)

Penulis: erwin adrian
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved