Ingin Berobat Pakai BPJS Kesehatan? Rekam Sidik Jari Terlebih Dahulu

Sistem finger print bukanlah hal baru di program JKN-KIS, khusus peserta JKN-KIS yang memperoleh pelayanan Hemodialisa (cuci darah),

Ingin Berobat Pakai BPJS Kesehatan? Rekam Sidik Jari Terlebih Dahulu
Istimewa
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Agus Purwono, saat melaksanakan koordinasi teknis dengan rumah sakit di wilayahnya, pada kamis (2/5/2019). Berlokasi di The Azana Hotel Airport Semarang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Desta Leila Kartika

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Hingga Mei 2019 BPJS Kesehatan Cabang Semarang yang membawahi Kota Semarang dan Kabupaten Demak, secara bertahap akan melakukan perekaman sidik jari (finger print) kepada setiap peserta JKN-KIS yang berobat di rumah sakit.

Tujuannya apabila setiap orang yang berobat namun menggunakan kartu bukan miliknya, maka pelayanan kesehatan tidak dapat dilanjutkan.

Sistem finger print bukanlah hal baru di program JKN-KIS, khusus peserta JKN-KIS yang memperoleh pelayanan Hemodialisa (cuci darah), sistem finger print ini telah dilaksanakan sejak akhir tahun 2017 lalu.

Sebagai langkah awal, BPJS Kesehatan Cabang Semarang sebelumnya telah melaksanakan koordinasi teknis dengan rumah sakit di wilayahnya, pada kamis (2/5/2019).

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Agus Purwono, membuka sosialisasi implementasi finger print kepada 25 direktur atau perwakilan rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di Kota Semarang dan kabupaten Demak.

“Kita sedang berproses dalam mengubah prosedur pelayanan di JKN-KIS ini, sehingga kedepannya tidak perlu ditanyakan kembali masyarakat apakah ada kartu JKN-KIS atau tidak, mengingat data finger print sudah terdata di sistem kami," tutur Agus Purwono, pada Tribunjateng.com, belum lama ini.

Implementasi perekaman sidik jari di program JKN-KIS ini dimulai dengan beberapa tahap. Pertama bulan Mei 2019 untuk pelayanan Rehabilitasi Medik, poli Mata, dan poli Jantung.

Tahap kedua, Agustus 2019 untuk Pelayanan Rawat Inap, tahap ketiga, Oktober 2019 untuk (Rawat Jalan Tingkat Lanjutan) RJTL bagi poli Penyakit Dalam, Anak, Bedah dan Obsgyn.

Selanjutanya tahap keempat, Desember 2019 untuk Seluruh pelayanan rawat jalan. Dengan harapan awal tahun 2020 sistem finger print dapat dilaksanakan secara menyeluruh.

“Ketika Surat Eligibilitas Peserta (SEP) akan dibuat, diaplikasi BPJS Kesehatan muncul fitur jika nomor Kartu JKN-KIS pasien diketik keluar notifikasi peserta belum melakukan perekaman finger print. Maka harus dilakukan merekam sidik jari sebanyak 4 kali keutamaannya adalah ibu jari, namun bila kondisi khusus bisa menggunakan jari lain," jelasnya.

Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Rujukan BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Istianti menambahkan, catatan peserta harus diedukasi agar mereka mengingat untuk kunjungan berikutnya mengunakan jari yang sudah dilakukan perekaman.

“Bagi bayi dan anak-anak diupayakan agar perekaman finger print dilaksanakan, bisa menggunakan finger print yang mobile untuk kemudahan perekaman. Kecuali seperti bayi, apabila perekaman tidak bisa dilakukan maka bisa dikeluarkan SEP dengan approval," tambah Istianti.

Adapun Rejected atau penolakan dan hambatan atas perubahan pasti ada, mengingat sistem yang telah nyaman dan sesuai dengan kondisi saat ini.

Namun perubahan demi hal yang baik terutama dalam program JKN-KIS, alangkah baiknya perlu dukungan dan koordinasi dari fasilitas kesehatan (Faskes) mitra BPJS Kesehatan. (dta)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved