Polres Kudus Ringkus Pembobol ATM Asal Sri Lanka

Kapolres Kudus, AKBP Saptono mengatakan, Rasaiah merupakan orang yang bertugas membobol data ATM

Polres Kudus Ringkus Pembobol ATM Asal Sri Lanka
Tribunjateng.com/Rifqi Gozali
Pelaku pembobol ATM asal Sri Lanka (tengah) menutup muka saat jumpa pers di Mapolres Kudus, Senin (6/5/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Polres Kudus menangkap pembobol Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang merupakan warga Sri Lanka. Pria bernama Rasaiah (31) itu bertindak sebagai eksekutor dalam menjalankan aksinya.

Kapolres Kudus, AKBP Saptono mengatakan, Rasaiah merupakan orang yang bertugas membobol data ATM.

Saat beraksi, dia mendapat sokongan dari rekannya bernama Shami Wiya warga Sri Lanka yang tinggal di Malaysia.

“Jadi saat beraksi, Rasaiah ditugaskan untuk membobol data ATM. Kemudian data akan dikirimkan pada rekannya Shami yang juga merupakan warga Srilanka yang berdomisil di Malaysia. Shami sendiri berperan mengirimkan kode PIN kepada tersangka. Shami juga menyuplai dana RP 3 juta pada tersangka sebagai biaya operasional selama aksi,” kata Kapolres Kudus AKBP Saptono dalam jumpa pers, Senin (6/5/2019).

Saptono melanjutkan, Rasaiah masuk ke Indonesia bermodalkan kartu pelrindungan pengungsi atau UNHCR. Dia sudah tujuh tahun menetap di Jakarta.

 “Keaslian kartu UNHCR yang dibawa masih kami selidiki dengan koordinasi dengan Imigrasi Pati. Bisa saja dia memalsukan data,” katanya.

Pihaknya kini masih mendalami kasus ini. Sebab, kasus pembobolan data lintas negara ini ditengarai juga melibatkan warga Indonesia. Dari pengakuan pelaku, dia mendapat dari seorang warga Medan, Sumatera Utara.

“Dugaan motif dari aksi ini untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja, tapi kami akan kaji temuan-temuan baru,” katanya.

Diketahui, pelaku ditangkap pada 5 April 2019. Sementara barang bukti yang diamankan di antaranya 26 kartu ATM dari berbagai jenis bank dan 3 kartu master yang digunakan untuk membobol ATM. Penangkapan tersebut, kata Saptono, dilaporkan dari seorang warga karena pelaku terlalu lama di dalam ATM di Desa Gulang.

“Pelaku pasal 46 ayat 1 atau ayat 2 atau pasal 30 ayat 1 atau ayat 2 UU no. 19 tahun 2016 tentang perubahan UU no 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara dan denda maksimal Rp 700 juta,” tandas Saptono.

Sementara dari pengakuan pelaku, dia baru pertama melakukan pembobolan ATM di Kudus. Dia hanya mendapat tugas dari rekannya.

“Saya baru pertama kali,” katanya. (goz)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved