Pengrajin Keranjang Sampah Bambu di Desa Banjaran Purbalingga Masih Bertahan

Perempuan renta itu tidak menebang sendiri bambunya. Dinah membeli bahan itu seharga Rp 17 ribu perbatang. Ia menghitungnya sebagai modal produksi.

Pengrajin Keranjang Sampah Bambu di Desa Banjaran Purbalingga Masih Bertahan
TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKI
Dinah pengrajin keranjang sampah di Desa Banjaran Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga mengantarkan hasil kerajinan untuk didistribusikan. 

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Usia Dinah (58) hampir uzur. Kulit tubuhnya pun sudah kendur.

Tenaganya pasti jauh menurun ketimbang saat muda dulu. Tetapi nenek itu belum mau pensiun dari pekerjaan beratnya.

Tumpukan keranjang bambu di rumahnya, Rt 5 Rw 9 Desa Banjaran Kecamatan Bojongsari bukti nenek itu masih perkasa. Seluruh tempat sampah tradisional itu buah karya tangan terampilnya.

Seluruh proses pekerjaan itu mampu dia selesaikan sendiri. Pagi ia sudah mulai memotong batang bambu menggunakan gergaji. Bambu yang telah terpotong dia sayat tipis-tipis hingga siap dianyam.

Inilah tahap pekerjaan yang butuh ketelatenan. Duduk dekat pintu yang terang cahaya, Dinah mulai memainkan jemarinya untuk menganyam keranjang sampah.

Selesai barang jadi, ia tak perlu repot memasarkannya ke pelanggan. Seorang pengepul di kampungnya siap menampung seluruh barang hasil kerajinannya.

"Saya sudah lama buat keranjang," katanya.

Perajin Logam Komponen Kapal di Tegal Kesulitan Ekspor Karena Tak Miliki Sertifikat LR

Perempuan renta itu tidak menebang sendiri bambunya. Dinah membeli bahan itu seharga Rp 17 ribu perbatang. Ia menghitungnya sebagai modal produksi.

Sementara hasil kerajinannya dihargai Rp 4 ribu perbiji. Dalam sehari, dia rata-rata mampu memproduksi 10 keranjang. Barang itu ia setorkan ke pengepul setelah terkumpul. Rata-rata penghasilan Dinah dari matapencaharian itu sekitar Rp 25 ribu perhari.

Di desa yang minim lapangan kerja, dia mensyukuri hasil pekerjaannya yang tak seberapa. Paling tidak, rupiah tetap mengalir ke sakunya untuk menyambung hidup. Penghasilan minim itu dirasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Halaman
12
Penulis: khoirul muzaki
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved