Dari Debt Collector hingga UU ITE Jadi Bahan Penyuluhan Hukum di Pendam IV/Diponegoro

Penyuluhan hukum dari Tim Kumdam dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan ataupun wawasan kepada seluruh prajurit dan PNS Pendam IV

Dari Debt Collector hingga UU ITE Jadi Bahan Penyuluhan Hukum di Pendam IV/Diponegoro
Istimewa
Anggota Pendam IV Harus Melek Hukum dan Patuh Pada Hukum 

TRIBUNJATENG.COM -- Untuk menambah wawasan di bidang hukum dan meminimalisir pelanggaran, Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pendam IV/Diponegoro mengikuti penyuluhan hukum dari Tim Kumdam IV/Diponegoro di Aula Pendam IV/Diponegoro, Senin (13/5).

Kapendam IV/Diponegoro Kolonel Arh Zaenudin,  melalui Wakapendam IV/Diponegoro Letkol Kav Susanto,  menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan terkait norma-norma hukum dan mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang prajurit dan PNS khususnya hal-hal terkait dengan hukum.

“Penyuluhan hukum dari Tim Kumdam dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan ataupun wawasan kepada seluruh prajurit dan PNS Pendam IV. Anggota Pendam harus melek hukum, sehingga kedepan lebih mengerti dan paham tentang apa yang harus dilakukan apabila bersinggungan dengan permasalahan hukum”, ungkap Waka Pendam.

Oleh karena itu dirinya meminta kepada seluruh peserta yang hadir untuk mengikuti dengan seksama, dan tanyakan bila ada hal-hal yang belum dimengerti agar ke depan tidak ada anggota Pendam yang terjerat permasalahan hukum.

Sementara itu, Mayor Chk Munadi, selaku penyuluh dari Kumdam IV/Diponegoro menyampaikan beberapa materi yang rentan terjadi di masyarakat dan sangat mungkin dialami prajurit dan PNS. Materi tersebut diantaranya tentang Fiducia, Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE dan Narkoba.

Dijelaskan Mayor Chk Munadi, fiducia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda.

Hal ini sering terjadi pada kredit kendaraan bermotor. Karena kreditnya macet/mengalami penunggakan, kreditor/dealer biasanya akan meminta jasa Debt Collector untuk menarik kendaraannya.

Berdasarkan UU No 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, hal tersebut tidak dibenarkan, karena kredit kendaraan masuk ranah perdata, dimana konsumen memiliki hak atas kendaraan/barang dan uang cicilan/setoran.

Masalah perdata harus diselesaikan secara perdata, baik melalui gugatan, lelang, atau dijual agar masing-masing terpenuhi haknya. Debt Collector adalah ilegal, bila terjadi pengambilan paksa oleh depkolektor maka dapat dipidanakan karena telah melakukan tindakan kekerasan dan atau pemaksaan.

Sayangnya sampai saat ini masih banyak masyarakat yang tidak paham tentang hal tersebut, sehingga bila mengalami kredit macet kendaraan/barang kreditannya diminta/diambil oleh petugas lising hanya bisa pasrah, dan akhirnya mereka kehilangan barang dan uang angsuran yang telah disetorkan, imbuhnya.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved