Bawang Putih Langka! Ngargono: Operasi Pasar Kurang Tepat Sasaran

Kenaikan harga bawang putih yang hingga kini belum terkendali dengan baik diduga karena impor dari luar negeri terlambat masuk.

Bawang Putih Langka! Ngargono: Operasi Pasar Kurang Tepat Sasaran
Tribunjateng.com/Yayan Isro Roziki
Petani memanen bawang putih di area perkebunan Desa Petarangan, Kecamatan Kledung, Kamis (28/3). 

SEMARANG, TRIBUNJATENG.COM -- Kenaikan harga bawang putih yang hingga kini belum terkendali dengan baik diduga karena impor dari luar negeri terlambat masuk.

Apapun penyebabnya, faktanya adalah harga bawang putih melambung, dan itu merugikan konsumen.

"Kalau menurut saya, operasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah belum maksimal dampaknya. Nggak banyak jumlahnya. Jadi mirip menggarami lautan," kata Ngargono selaku Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Semarang.

Ngargono menambahkan, akhir April harga bawang sampai Rp 70.000, terus awal Mei menurun. Hingga 8 Mei harga masih Rp 50 ribu. Kemudian 13 Mei turun di kisaran Rp 35 ribu perkilogram.

Diterangkannya, keterlambatan datangnya kuota impor 115.000 ton masuk Indonesia menjadi penyebab. Sehingga stok barang kekurangan, sementara permintaan tinggi, akibatnya harga melonjak tak terkendali.

"Kenapa terlambat? Kan sudah tahu kebutuhan pasar berapa, stok habis bulan apa. Mestinya impor jangan terlambatl. Akhirnya ya begini ini, barang langka otomatis harga melonjak, masyarakat menjerit," ujarnya.

Menurut Ngargono, operasi pasar juga kurang tepat sasaran. Sebab jenis barang yang disediakan berbeda dengan kebutuhan masyarakat.

"Pasar butuh bawang jenis kating tapi operasi pasar jenis sinco. Ya kurang tepat sasaran.

Dalam Rapat Ekuinda Jateng di Gradhika Bakti Praja 29 April 2019 lalu, Ngargono menyampaikan hal ini, dan langsung ditanggapi oleh Dir Reskrimsus Polda Jateng. Berdasar hasil penyelidikan polres polres tidak ditemukan indikasi penimbunan bawang merah. "Jadi ya memang barangnya tidak ada. Kalau barangnya nggak ada apanya yang mau ditimbun," terang Ngargono.

Berdasar data di Kementerian Pertanian, kebutuhan bawang putih di Indonesia dipasok dari luar negeri 95 persen, sedangkan hasil pertanian dalam negeri baru memenuhi 5 persen saja. Petani bawang putih di Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Siti Romlah (58), mengatakan pesimis bisa panen dalam waktu dekat ini saat harga tinggi. Karena masa tanam bawang putih 120 hari baru bisa dipanen

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved