Menengok Kegiatan Sekolah Nonformal Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di Kota Salatiga

- Berawal dari kesepakatan beberapa orang tua yang ingin memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar

Menengok Kegiatan Sekolah Nonformal Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di Kota Salatiga
ines ferdiana
Menengok Kegiatan Sekolah Nonformal KBQT di Kota Salatiga 

“Kami memang membebaskan anak-anak untuk menentukan sendiri apa yang ingin dipelajari, apa yang menjadi minat masing-masing. Karena kecerdasan anak juga berbeda-beda, ada yang memang cerdas dalam bidang logis matematik, ada yang suka dengan bidang bahasa, atau juga bidang seni seperti menggambar atau menyanyi," tuturnya.

Di sini murid tidak hanya didekte dan diberikan berbagai macam peraturan, tetapi murid ikut terlibat dalam menentukan peraturan dan jadwal maupun materi pembelajaran. Guru atau wali murid hanya sebagai pendamping, yang harus memahami metodologi pemikiran pendidikan kritis dan terbuka. Meskipun sudah menguasai materi, namun tetap menempatkan murid sebagai teman belajar.

Murid didampingi untuk memahami materi, bukan menghafal. Materi belajar pun disesuaikan dengan kebutuhan, kontekstual dan mempergunakan lingkungan dan pengalaman sehari-hari sebagai media belajar. Kondisi kelas diupayakan selalu demokratis, yaitu pemberian sanksi dari kesepakatan murid sendiri, begitu pun dengan apresiasi terhadap murid yang berprestasi.

Aini Zulfa, satu di antara pendamping KBQT mengatakan pendidikan di KBQT setara jenjang SMP dan SMA, dengan status sebagai pendidikan kesetaraan (Paket B dan C). Anak-anak bebas bersepakat tentang peraturan dalam kelas, mulai dari jam belajar, jadwal pertemuan, hingga sanksi konstruktif bagi siapapun yang melanggar kesepakatan bersama.

“Kelompok atau kelas berdasarkan minat masing-masing anak, jadi bisa saja berubah tiap tahunnya. Untuk anak-anak kelas 1 SMP biasanya masih bereksplorasi mencoba semua kelas. Tapi untuk tahun berikutnya pasti sudah tahu mau fokus di bidang apa. Jadi misal ada yang tertarik dengan otomotif, gitu bisa bikin pengumuman ada yang mau ikut kelas dia nggak, kalau nggak ada ya tetap ada kelas otomotif isinya dia aja gitu,” jelasnya.

Saat ini ada 7 kelas yang sedang berjalan dalam KBQT, kelas gambar, musik, teater, dan lain-lain. Setiap kelas ditemani oleh seorang pendamping sebagai wali kelas. Jika di sekolah formal guru hanya menjadi sumber ilmu, di sini guru hanya menemani murid untuk mengeksplorasi pengetahuan dan keterampilan masing-masing anak. Menemani proses belajar, membantu mengarahkan passion, mempersiapkan kreasi karya, dan juga mengevaluasi pencapaian siswa secara periodik.

“Jadi memang akan sedikit sulit beradaptasi kalau ada anak yang baru pindah dari sekolah formal ke KBQT yang non formal. Karena pasti awalnya nggak tahu harus ngapain soalnya nggak ada jadwal yang diberikan, mereka harus buat jadwal sendiri. Tapi biasanya setelah setahun akan paham dengan sendirinya ternyata begini toh sekolah non formal itu,” ujar almuni KBQT itu.

Ia menambahkan tidak ada ujian semester dalam KBQT, tetapi terdapat sebuah tugas akhir yang harus dibuat oleh anak-anak. Tugas akhir tersebut adalah sebuah karya yang dibuat sesuai dengan bidang yang disukai. Misalnya ada yang membuat puisi, cerita pendek, kerajinan tangan, hingga film pendek. Kemudian untuk ujian nasional menggunakan Paket B dan Paket C untuk mendapatkan ijazah.(ifp)

Penulis: Ines Ferdiana Puspitari
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved