Santri Pondok Pesantren Alpansa Klaten Tegas Tolak Gerakan People Power

Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa) menolak seruan pihak tertentu untuk melakukan gerakan people power terkait hasil Pemilu 2019

Santri Pondok Pesantren Alpansa Klaten Tegas Tolak Gerakan People Power
IST
Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa) menolak seruan pihak tertentu untuk melakukan gerakan people power terkait hasil Pemilu 2019, Selasa (14/05/19). 

TRIBUNJATENG.COM, KLATEN - Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa) menolak seruan pihak tertentu untuk melakukan gerakan people power terkait hasil Pemilu 2019, Selasa (14/05/19).

Guz Zuhri selaku pengurus Pondok Pesantren secara terang-terangan menolak gerakan People Power karena dianggap berpotensi memecah belah bangsa.

"Gerakan itu dapat memecah-belah kesatuan dan persatuan bangsa.

Untuk itu kami mengajak seluruh santriwan santriwati tegas menolak gerakan ini," kata Guz Zuhri, anak dari Mbah Liem, pendiri pondok pesantren tersebut pada tahun 1967.

Terlebih lagi, Pondok Pesantren Al Muttaqien merupakan pondok pesantren yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan selalu menerapkannya kepada para santri dan masyarakat untuk mencintai NKRI harga mati.

Salah satu santri mengatakan, viralnya gerakan People Power ini dirinya merasa prihatin dan khawatir akan dampak dari gerakan ini untuk persatuan dan kesatuan NKRI.

“Sebagai generasi penerus bangsa, kita seharusnya menjaga kesatuan dan persatuan NKRI, bukan malah merusak dan memecah belahnya,” serunya.

Terkait gerakan ini adalah gerakan yang muncul menjelang pengumuman hasil Pemilu 2019 oleh KPU Pusat pada 22 Mei 2019 mendatang, para santri menghimbau kepada semua orang agar tidak ikut-ikutan gerakan ini karena akan berdampak bahaya bagi bangsa.

“Sudahlah, kita percayakan saja semuanya kepada pihak penyelenggara yang mempunyai kewenang dan amanah, kalau tidak percaya dengan mereka mau percaya dengan siapa lagi”, ungkapnya.

Para santri juga mengatakan bahwa mereka tidak akan tinggal diam dengan gerakan yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan situasi yang buruk untuk bangsa.

“Kami akan terus menjaga persatuan dan kesatuan NKRI yang kami cintai dengan cara menolak gerakan ini, serta menggaungkan kepada semua orang untuk bersama menolaknya demi terjaganya situasi damai di Negara Republik Indonesia yang kita cintai”, tutupnya. (*)

Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved