Selama Dua Pekan, Mahasiswa Lintas Negara Teliti Warisan Sejarah Manusia di Sangiran Sragen

Program kolaborasi bersama Museum National D’Histoire Naturelle (MNHN) Perancis tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua pekan.

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: deni setiawan
ISTIMEWA
Guru besar MNHN Prof Dr François Sémah tengah memberikan penjelasan kepada para peserta The International Participatory Training on Human Origins Heritage Volume 2.0 di UKSW Salatiga, Senin (13/5/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) melalui Pusat Studi Centre for Sustainable Development Studies (CSDS) Fakultas Interdisiplin kembali menggelar kegiatan bertajuk “The International Participatory Training on Human Origins Heritage Volume 2.0”.

Program kolaborasi bersama Museum National D’Histoire Naturelle (MNHN) Perancis tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua pekan, mulai Senin (13/5/2019) hingga Sabtu (25/5/2019).

Koordinator kegiatan, Titi S Prabawa mengatakan, kegiatan berbentuk forum diskusi itu terkait proyek penelitian warisan sejarah manusia di Sangiran, Kabupaten Sragen.

Kegiatan yang telah kali kedua diselenggarakan itu melibatkan 25 mahasiswa dari berbagai latar belakang, baik secara ilmu maupun asal negara.

“Peserta kegiatan adalah 13 mahasiswa UKSW,  7 mahasiswa asal Perancis, sisanya mahasiswa berasal dari Universitas Indonesia, Timor Leste, Spanyol, dan Kamboja masing-masing satu orang,” terangnya dalam rilis kepada Tribunjateng.com, Rabu (15/5/2019).

Menurut Titi, mereka peserta berasal dari latar belakang disiplin ilmu yang berbeda-beda mulai arkeologi, komunikasi, hubungan internasional, pertanian, biologi, pariwisata, kimia, sosiologi agama, studi pembangunan, sejarah, dan Asian studies.

Dikatakannya, tujuan kegiatan itu guna membuka wawasan mahasiswa mengenai topik-topik yang beririsan untuk kepentingan, riset, konservasi, dan pembangunan. 

Lainnya, kata dia, diharapkan dapat membuka peluang interaksi internasional dan antar budaya bagi mahasiswa serta membuka wawasan tentang proses eksplorasi keilmuan yang sifatnya partisipatoris.

“Kami juga ingin membangun kesadaran mahasiswa mengenai tantangan dari sisi alam maupun budaya dalam kajian maupun praktik konservasi warisan yang mungkin akan mereka temui dalam karier mereka,” katanya.

Kegiatan yang didukung Alliance Sorbonne Universite, Perancis ini menghadirkan pemateri baik dari MNHN, Sorbonne University, serta UKSW.

Guru besar MNHN Prof Dr François Semah menuturkan, kelas internasional ini dibagi dalam beberapa fase.

Pertama, fase untuk membangun dasar pemahaman yang sama mengenai isu ilmiah dan pembangunan melalui kelas online.

Kedua adalah diskusi dan pendalaman tentang berbagai topik terkait pengelolaan warisan budaya.

“Ketiga, kegiatan lapangan di Sangiran. Fase terakhir adalah presentasi mahasiswa dalam seminar. Saat kegiatan lapangan di Sangiran, mahasiswa akan dibagi dalam kelompok,” jelas arkeolog Perancis tersebut.

Pembantu Rektor I Bidang Akademik UKSW, Iwan Setyawan menyampaikan, kesempatan bertemu mahasiswa lintas universitas bahkan lintas negara sangat baik untuk memberikan pengalaman kuliah internasional bagi peserta.

“Kami berharap kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk bersama-sama melihat dan menemukan berbagai permasalahan di situs budaya Sangiran untuk bersama-sama dicarikan solusinya,” pungkasnya. (M Nafiul Haris)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved