Ngopi Pagi

FOKUS : Aksi Pepe

Dua huruf ini, PP, biasa tertulis di kaca depan-belakang bus angkutan umum. Singkatan dari pulang-pergi. Dan, sangat akrab, populer,

FOKUS : Aksi Pepe
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Oleh Sudjarwo

Wartawan Tribun Jateng

Dua huruf ini, PP, biasa tertulis di kaca depan-belakang bus angkutan umum. Singkatan dari pulang-pergi. Dan, sangat akrab, populer, dalam rakyat negeri ini.

Andai PP juga dipakai sebagai singkatan dari People Power, rasanya masih sulit mendapat tempat yang sama dengan PP (pulang pergi dan sebaliknya). Kendati istilah ini sekarang sedang ‘populer’.

Konstelasi politik pasca-Pilpres 2019 memanas setelah muncul wacana people power dari kubu salah satu peserta Pilpres. Isu PP kian menggelinding jelang Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumunkan hasil Pemilu pada 22 Mei mendatang. Pasalnya PP ini akan digelar untuk menolak pengumuman tersebut.

Kalau merunut muasalnya, people power adalah bahasa Inggris yang artinya kekuatan rakyat. Ini sudah ada sejak zaman Yunani kuno, bahwa rakyat datang berunjuk rasa di depan senat merupakan hal yang lumrah. Aksi ini biasa dilakukan ketika rakyat dihadapkan pada kebijakan senat yang tidak sejalan dengan aspirasi rakyat.

Istilah people power sendiri pertama dipakai pada revolusi sosial damai di Filipina sebagai akibat dari protes rakyat Filipina pada 1986. Jadi lain maknanya jika aksi PP ini ditujukan untuk menolak hasil Pemilu.

Maklum saja jika TNI-Polri kini terus siaga agar situasi negeri ini tetap kondusif. Maklum pula jika terus bermuculan pernyataan penolakan aksi PP (people power) dari sejumlah tokoh maupun sejumlah ormas di daerah-daerah. Penolakan ini juga tak lain untuk berjaga-berjaga jangan sampai terjadi situasi tak diinginkan oleh rakyat kebanyakan, kalau aksi PP itu nanti benar digelar pada 22 Mei.

Pada akhirnya PP seperti itu masih bikin waswas, bukan dianggap sebagai kewajaran apalagi tradisi. Muasalnya pun dari luar. Rakyat Indonesia sudah memiliki PP sendjri, warisan leluhur. Yaitu Pepe (lafal “e” seperti pada kata “enak”).

Tentunnya Pepe bukan dari nama Pepe, bek Timnas Portugal yang dikenal suka bermain kasar. Ia dikenal bermain kasar setelah dalam insiden terinjaknya tangan pemain Barcelona, Lionel Messi, oleh Pepe, yang saat itu bermain untuk Real Madrid, pada menit ke 68 leg pertama laga lanjutan Copa Del Rey di Santiago Bernabeu, Rabu (18/1/2012).

Tapi, boleh juga dikaitkan Pepe yang di luar lapangan ia dikenal sopan. Pepe warisan leluhur itu adalah demonstrasi, aksi protes rakyat yang tanpa teriak-teriak, tanpa ada kekerasan, kebringatan, apalagi anarkis hingga berpotensi chaos.

Pepe merupakan aksi sekelompok orang, bisa perorangan, yang cukup datang ke alun-alun, kemudian melepas baju dan duduk bersila berdiam diri di bawah terik mentari menghadap tepat ke arah kerajaan.

Karena itu kemudiann disebut “pepe” yang dalam bahasa Indonesia berarti berjemur. Juga biasa disebut tapa pepe, karena aksi itu dengan diam, sangat sopan, bak orang bertapa, Biasanya raja yang menjumpai situasi ini langsung turun untuk menemui atau meminta yang pepe itu untuk menghadap.

Bentuk tradisi ini tidaklah dianggap sebagai bentuk "pembangkangan" terhadap raja yang berkuasa saat itu. Hal tersebut dikarenakan posisi raja yang merupakan perwujudan keadilan terhadap rakyatnya sehingga aksi protes ini dianggap sah dan diakui sebagai hak dasar rakyat. Begitulah aksi khas rakyat yang sebenarnya. (*)

.

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved