Perusahaan Menengah Cari Dana, Puluhan Calon Emiten Antre Menggelar IPO

Sepanjang 2019, Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah mencatat sebanyak 12 perusahaan mencari pendanaan di pasar modal lewat initial public offering (IPO

Perusahaan Menengah Cari Dana, Puluhan Calon Emiten Antre Menggelar IPO
tribunjateng/dok
ilustrasi uang rupiah

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Sepanjang 2019, Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah mencatat sebanyak 12 perusahaan mencari pendanaan di pasar modal lewat initial public offering (IPO). Jumlah itu segera bertambah, seiring dengan beberapa perusahaan yang masuk dalam pipeline IPO BEI.

Dalam pipeline BEI, ada 25 perusahaan yang sudah mengantre IPO. Perusahaan yang berencana listing dalam waktu dekat yakni PT Bali Bintang Sejahtera, perusahaan yang menaungi tim sepak bola Bali United.

Bali Bintang menargetkan listing pada 27 Mei. Selain itu ada pengelola hotel asal Majalengka, Hotel Fitra International, yang berniat listing pada 31 Mei.

Dari IPO 25 calon emiten tersebut, ada potensi pengumpulan dana sekitar Rp 1,72 triliun. Ini termasuk perusahaan garmen dan tekstil PT Golden Flower yang baru saja mengumumkan rencana IPO pada Juni, dengan target dana Rp 22 miliar.

Sejauh ini, target emisi Bali Bintang tercatat sebagai yang terbesar, yaitu antara Rp 300 miliar-Rp 350 miliar. Sedangkan yang terkecil yaitu perusahaan distribusi alat kesehatan, Itama Ranoraya, dengan target dana IPO sebesar Rp 10 miliar.

Analis Artha Sekuritas, Frederik Rasali melihat, jumlah dana yang diincar calon-calon emiten tersebut relatif lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata emisi IPO tahun sebelumnya.

Biasanya, menurut dia, calon emiten membidik dana hingga ratusan miliar rupiah. "Kalau sekarang, sepertinya dari unit bisnis menengah," katanya, Jumat (17/5).

Frederik menilai, selama imbal hasil atau yield obligasi dan sukuk dari pemerintah masih tinggi, korporasi masih lebih memilih mencari dana dari pasar modal lewat IPO.

Prospek menarik

Dia menambahkan, semua perusahaan yang masuk daftar IPO di BEI memiliki prospek yang menarik. Tetapi, tak semuanya bisa serta merta dibeli ketika IPO, karena harus melihat prospek industri secara keseluruhan.

Menurut dia, sektor konsumer dan perbankan bisa jadi fokus para investor tahun ini. "Pilihan lainnya sektor infrastruktur, tapi memang pertumbuhan anggaran infrastruktur di APBN sudah melambat,” jelasnya.

Menimbang kondisi pasar yang sedang gamang, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, emiten-emiten di sektor agrikultur dan consumer goods lebih berpeluang untuk bisa mendapatkan dana dari pasar modal.

Hingga akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 6,16 persen jika dihitung dari posisi akhir tahun lalu. Dalam kondisi pasar yang fluktuatif seperti itu, Herditya berujar, saham-saham lapis kedua cukup menarik.

Menurut dia, hal itu tak lepas dari saham-saham bigcaps yang turun cukup dalam. "Di satu sisi, saham-saham second liner justru cukup menarik pertumbuhannya,” terang dia.(Kontan/Aloysius Brama Adintyo)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved