Sidak Pasar dan Supermarket di Karanganyar, Dinkes Temukan Zat Berbahaya & Izin Edar Fiktif

Selain mengecek kandungan makanan dan minuman, tim gabungan juga memberikan edukasi kepada pedagang dan pengelola pasar

Sidak Pasar dan Supermarket di Karanganyar, Dinkes Temukan Zat Berbahaya & Izin Edar Fiktif
Tribunjateng.com/Agus Iswadi
Barang berizin BPOM fiktif. 

TIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Menjelang lebaran 1440 Hijriah, Tim gabungan melakukan sidak di sejumlah tempat Pasar Tradisonal Palur dan Supermarket Giant Palur Plasa pada Senin (20/5/2019).

Tim gabungan yang terdiri dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menemukan beberapa makanan yang mengandung borax, rodamin B, dan fomalin di Pasar Tradisional Palur. Begitu juga minyak curah.

Sedangkan di Supermarket Giant Palur Plasa ditemukan kemasan makanan rusak, kutu di dalam kemasan dan makanan berizin Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) fikitif.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Karanganyar, Rita Sari Dewi menyampaikan, saat melakukan cek bahan makanan dan minuman di Pasar Palur, ada 8 sample makanan yang diuji.

Rita menjelaskan, dari 8 sample makan tersebut, beberapa makanan positif mengandung bahan berbahaya seperti borax, formalin, dan rodhamin B. Makan itu di antaranya gendar, mie basah, kerupuk dan teri nasi.

"Terkait minyak goreng curah, minyak yang sudah dipakai. Minyak itu didaur ulang dan dijual kembali. Dikhawatirkan dijual lagi ke penjual gorengan pinggir jalan," katanya kepada para wartawan di sela sidak, Senin (20/5/2019).

Selain mengecek kandungan makanan dan minuman, tim gabungan juga memberikan edukasi kepada pedagang dan pengelola pasar.

"Pembeli dan pedagang harus cerdas, jangan hanya menerima barang dari pemasok yang penting murah. Tapi tidak melihat kualitas dan kandungan di dalamnya," ungkapnya.

Sementara itu, saat melakukan sidak di supermarket, pihaknya menemukan beberapa kemasan makan biskuit kaleng yang rusak, ada kutu di dalam kemasan kerupuk gendar dan tepung berizin BPOM fiktif. "Kalau supermarket tidak ditemukan yang kadaluarsa. Cuma kemasan rusak.Ada beberapa jenis barang kemasannya rusak, dan nomor izin BPOM fiktif. Ada 2 kemungkinan, itu karena perpanjang izin habis atau izin edar fiktif," paparnya.

"Soal kutu di dalam kemasan (kerupuk gendar), itu justru karena tidak ada bahan pengawetnya," lanjutnya.

Selanjutnya, terkait ditemukannya beberapa barang yang kemasannya rusak dan izin BPOM fiktif, pihaknya sudah berbicara dengan manager. "Kalau ada kemasan kaleng yang peyot (rusak) disingkirkan. Kalau ini tadi (izin BPOM fiktif) supaya tidak menerima lagi. Yang penting jangan sampai pembeli dirugikan dengan barang yang tidak layak konsumsi," tuturnya.

Kepala Toko Giant Supermarket Palur Plasa, Fuad Ari kepada wartawan mengatakan, beberapa barang tadi ada temuan seperti kondisi fisik rusak dan nomornya tidak terdaftar ke BPOM. "Itu nanti akan kita mintakan ke pihak supplier," katanya.

Ia menuturkan, terkait pengecekan tanggal kadaluarsa pada barang yang di display, Fuad mengaku selalu dilakukan secara rutin setiap harinya. (*)

Penulis: Agus Iswadi
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved