Mahasiswa Undip Raih Best Academic Excellence di Belanda

Kerja keras tim delegasi Undip untuk EuroMUN 2019 membuahkan hasil. Empat mahasiswa tersebut berhasil menjuarai kompetisi sidang PBB di Maastricht, Be

Mahasiswa Undip Raih Best Academic Excellence di Belanda
ISTIMEWA
JUARA DI BELANDA - Roihanatul Maziyah bersama tim delegasi dari Undip Semarang jadi juara meraih Best Academic Excellence di Maastricht, Belanda. (IST) 

TRIBUNJATENG.COM -- Kerja keras tim delegasi Undip untuk EuroMUN 2019 membuahkan hasil. Empat mahasiswa tersebut berhasil menjuarai kompetisi sidang PBB di Maastricht, Belanda.

Mahasiswi  Undip Semarang, Roihanatul Maziyah atau biasa disapa Hana meraih penghargaan di Eropa. Hana mahasiswi jurusan Hubungan Internasional 2015 berhasil raih penghargaan Best Academic Excellence dalam kompetisi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tingkat internasional diselenggarakan di kota Maastricht, Belanda pada 2-5 Mei 2019.

Adapun kompetisi tersebut diikuti lebih dari 500 delegasi yang berasal dari 30 negara. European Model United Nations atau EuroMUN tahun 2019 mengambil tema “Exploring the European Idea” yang mengacu pada peran penting Eropa dalam berkontribusi memberikan ide-ide inovatif bagi pengembangan standar sosial di masa depan.

Selama kegiatan kompetisi berlangsung, Hana berkesempatan untuk mewakili negara Australia dalam CCPCJ (Commission on Crime Prevention and Criminal Justice) yang tergolong komite dengan level tersulit dengan predikat advanced council.
Terdapat 2 topik pembahasan dalam CCPCJ, yakni Environmental Crime (With a Focus on Illegal Poaching and Trade with Endangered Species) dan Combating the Challenges of Justice Systems (With a Focus on Restorative Justice).

Kepada Tribun Jateng, Hana mengaku tidak menyangka akan mendapat penghargaan di salah satu kompetisi sidang PBB paling kompetitif di dunia. Sebab, terdapat beberapa kendala yang harus dihadapi oleh timnya sebelum keberangkatan. Sebut saja, keterbatasan pendanaan, jadwal kuliah yang padat, waktu persiapan untuk riset yang terlalu mepet. Karena panduan lomba dan topik baru diberikan satu minggu sebelum lomba berlangsung.

Selain hal itu, menurut Hana CCPCJ termasuk council dengan tingkat kesulitan tertinggi dari semua council yang dilombakan dalam EuroMUN tahun 2019.

"Waktu hari pertama lomba sudah merasa terintimidasi oleh delegasi lainnya terutama berasal dari Eropa, sebab kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa S2 yang mengambil European Law. Nah saya sendiri masih S1, terus saya menjadi satu-satunya orang Asia di council tersebut. Ketika saya menyadari hal ini, saya bertekad untuk mematahkan strereotip ‘asians will only friend with asians’. Jadi selama empat hari lomba itu saya selalu mencoba untuk berbaur dengan orang-orang Eropa," terang Hana, Minggu (26/5).

Meskipun beberapa kendala datang, Hana mengaku sangat bersyukur dapat membawa penghargaan bagi almamaternya, Universitas Diponegoro Semarang.

Menurutnya penghargaan itu tidak lepas dari kerja keras tim delegasi Undip untuk EuroMUN 2019. Adapun personel tim terdiri dari empat delegasi, antara lain Putri Rahma Asri selaku Ketua Delegasi dari jurusan Hubungan Internasional, Ayu Isnaeni dari Akuntansi, Natasha Gunawan dari Fakultas Psikologi, dan Dinda Putri dari Fakultas Hukum.

"Kerja keras tanpa dukungan doa pun tidak akan berjalan dengan maksimal. Dalam situasi lomba rasanya pasti tertekan dan cemas apalagi lombanya MUN. Untuk menghadapi ini saya selalu menelpon ibu saya untuk meminta doa restu, setelahnya saya merasa tenang dan siap mengadapi intimidasi maupun krisis yang berlangsung selama kompetisi," kata Hana.

Bagi Hana yang juga sebagai Mahasiswi neprestasi 3 Undip 2018, MUN merupakan jenis lomba yang harus diikuti minimal sekali oleh setiap mahasiswa di Indonesia. Sebab, perlombaan kelas internasional tersebut dapat melatih kemampuan untuk berfikir kritis yang berlandaskan riset, debat dengan bahasa diplomatis, berpolitik, dan juga kemampuan menulis.

Dalam dirinya, Hana selalu mengingat sepenggal kalimat yang disampaikan oleh Steve Jobs “stay foolish and stay hungry”, ucapan tersebutlah yang ia jadikan landasan sehingga dapat memenangkan penghargaan MUN baik di skala nasional maupun internasional.

"Dengan ingat kata itu, sebelum MUN aku harus ngerasa jadi orang paling bodoh di dunia, jadi itu seperti mendorongku untuk baca lebih banyak dan riset lebih dalam," pungkasnya. (Saiful Mas'um)

Penulis: Saiful Ma'sum
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved