BPJS Kembangkan Sistem Fingerprint, Cukup Pakai Sidik Jari Untuk Berobat

"Sifatnya, kalau kartu kan gampang hilang. Kalau sidik jari kan selalu menempel," terang dia

BPJS Kembangkan Sistem Fingerprint, Cukup Pakai Sidik Jari Untuk Berobat
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) kesehatan regional VI Jateng-DIY kembangkan sistem pelayanan kesehatan, sistem kendali mutu pelayanan dan sistem pembayaran pelayanan kesehatan untuk meningkatkan efisien dan efektivitas. Satu di antaranya dengan pengembangan sistem fingerprint.

Deputi Direksi BPJS Kesehatan Jateng dan Yogyakarta, Aris Jatmiko memaparkan secara bertahap sistem ini akan diaplikasikan. Pertama, perekaman sidik jari ke peserta JKN KIS yang berobat di rumah sakit.

"Tujuan ke depan peserta JKN KIS mendapat pelayanan fasilitas kesehatan tak harus pakai kartu, tapi pakai sidik jari saja," paparnya, Kamis (30/5/2019).

Menurut Aris sistem ini bukan hal yang baru. Pasalnya untuk khusus peserta JKN KIS yang memperoleh layanan cuci darah, sistem yang sama sudah diaplikasikan sejak 2017.

"Ini tertuang di Undang-undang no.40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional pasal 24 ayat 3," imbuhnya.

Aris menilai manfaat rekam sidik jari ialah memudahkan administrasi pendaftaran. Fasilitas kesehatan terhindar dari penyalahgunaan kartu KIS.

"Sifatnya, kalau kartu kan gampang hilang. Kalau sidik jari kan selalu menempel," terang dia.

Persiapan yang dilakukan untuk mengaplikasikan sistem fingerprint ini di antaranya memberi sosialisasi ke manajemen fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) dan peserta serta stakeholder terkait.

BPJS Kesehatan, menurutnya berkoordinasi dengan FKRTL terkait sumber daya sarana pendukung implementasi fitur sidik jari dengan mengoptimalkan alat yang tersedia di FKRTL atau rumah sakit.

"Lalu membuka loket atau regristasi sidik jari menyesyaikan proses pelayanan di rumah sakit setempat," paparnya.

Menurutnya tahap implementasi fingerprint tahap pertama telah dimulai 1 Mei 2019 setelah melalui proses pendaftaran sidik jari pada April 2019. Tahap pertama dilaksanakan untuk pelayanan instalasi rehabilitasi medik (IRM) mata dan jantung.

"Dilanjutkan tahap berikutnya sesuai jadwal yang ditetapkan. Yakni pelayanan inap, penyakit dalam, anak, bedah obsteri ginekologi dan seluruh pelayanan rawat jalan," ungkapnya. (Ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved