Gara-gara Orang Eropa Tak Bisa Menyebut Sala, Kota Budaya Itu Kini Dikenal Sebaga Solo

Sejarah nama Solo sendiri sebenarnya tidak lepas dari masa penjajahan.

Gara-gara Orang Eropa Tak Bisa Menyebut Sala, Kota Budaya Itu Kini Dikenal Sebaga Solo
TRIBUN JATENG/GALIH PERMADI
GAMELAN PUSAKA- Sejumlah abdi dalem Keraton Solo membawa gamelan pusaka ke Mesjid Ageng untuk ditabuh, Selasa (7/1/2014). 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Arus mudik mulai memenuhi jalanan dari ibukota menuju daerah-daerah lain.

Salah satu kota yang menjadi tujuan para pemudik tahun ini adalah Solo atau yang dikenal dengan nama resmi Surakarta.

Wilayah yang berjuluk kota budaya ini menyimpan banyak kisah sejarah.

Sembari menuju kota ini, tak ada salahnya jika kita merunut kembali riwayat nama Solo dan Surakarta.

Sejarah nama Solo sendiri sebenarnya tidak lepas dari masa penjajahan.

Kata Solo sebenarnya adalah pengucapan oleh orang Eropa yang tidak bisa menyebut Sala.

Ya, sebetulnya, kota ini bernama Sala.

Sebelum menjadi kota seperti sekarang, Sala adalah sebuah desa yang banyak ditumbuhi tanaman sejenis pinus.

Dalam serat Babad Sengkala, tanaman ini disebut dengan tanaman sala.

Desa Sala kemudian menjadi maju setelah Keraton Kasunanan memindahkan lokasi kerajaannya.

Halaman
123
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved