Jemaah Menyemut dalam Penutupan Pitulasan Masjid Menara Kudus

Suara Syekh Mahmood Sahat asal Mesir menggema saat melantunkan ayat Alquran di pelataran parkir Masjid Menara Kudus, Jumat (31/5/2019) malam

Jemaah Menyemut dalam Penutupan Pitulasan Masjid Menara Kudus
rifqi gozali
KH Ahmad Muwafiq saat menyampaikan tausiah dalam penutupan Pitulasan Masjid Menara Kudus, Jumat (31/5/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Suara Syekh Mahmood Sahat asal Mesir menggema saat melantunkan ayat Alquran di pelataran parkir Masjid Menara Kudus, Jumat (31/5/2019) malam. Saat itu tengah digelar penutupan Pitulasan Masjid al-Aqsha Menara Kudus.

Jemaah yang hadir memadati gedung parkir. Jumlahnya mencapai ribuan. Sementara mereka yang tidak kebagian tempat memilih menyemut di sepanjang Jalan Sunan Kudus dari Perempatan Menara sampai Perempatan Jember. Beberapa layar proyektor telah disediakan untuk memudahkan menyimak pengajian dari jalan.

Pitulasan sendiri merupakan majelis yang dipelopori oleh KHR Asnawi. Semula digelar setiap tanggal 17 bulan Hijriah. Seiring perkembangannya, majelis ini digelar setiap malam Ramadan. Tahun ini digelar sejak malam 3 sampai 27 Ramadan.

Kali ini, KH Ahmad Muwafiq asal Yogyakarta didapuk mengisi pengajian Pitulasan. Sebelum kiai pemilik rambut gondrong itu memberikan tausiahnya, terlebih dulu dibacakan khataman Alquran mulai surat al-Takasur sampai surat al-Ikhlas berikut doa khatmilquran.

Ketua Yayasan Masjid Menara Makam Sunan Kudus, Em Nadjib Hassan berkata, tidak ada yang beda pada malam penutupan kali ini dengan malam-malam sebelumnya. Bedanya, pada malam ini dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah. Di antaranya bupati dan Kapolres.

Selanjutnya, katanya, dalam kesempatan penutupan ini merupakan ajang menyejukkan kondisi bangsa yang sempat tercabik-cabik akibat konstelasi politik pada Pemilu 2019.

"Di bulan Ramadan, bulan penuh ampunan, penuh keberkahan, hilangkan hiruk-pikuk politik. bersatu dengan penuh damai," katanya.

Pada kesempatan ini, Nadjib juga membacakan jawaban dari persoalan agama. Misalnya hukum memegang mushaf yang disertai terjemah dan mushaf yang tidak ada terjemahannya. Nadjib menjawab, bahwa memegang mushaf harus dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar. Sedangkan yang disertai terjemah tidak diwajibkan dalam keadaan suci.

Untuk memudahkan jemaah, pihaknya telah mengumpulkan persoalan agama berikut jawabannya dalam bentuk buku. Sehingga bisa diakses secara mudah oleh mereka yang datang.

Tiba saatnya KH Ahmad Muwafiq, yang akrab dipanggil Gus Muwafiq, tausiah. Berbagai macam gurauan segar terlontar. Jemaah pun menyambutnya dengan riuh tawa.

Halaman
12
Penulis: Rifqi Gozali
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved