Mutiara Ramadan : Menatap Masa Depan

AL-QURAN sangat tandas mengingatkan agar manusia menjauhi sikap-sikap yang dapat menjerumuskan pada kebangkrutan individual, seperti putus harapan

Mutiara Ramadan : Menatap Masa Depan
tribunjateng/dok
Menegakkan Keadilan. Tadarus ditulis oleh Dr Mutohharun Jinan MAg, Dosen Pascasarjana Unmuh Surakarta 

Fokus masa depan

Keputusasaan dan kesempitan pikiran menunjukkan ketidakmampuan seseorang dalam mengelola dan mengendalikan daya kelebihan-kelebihannya yang telah dianugerahkan oleh Allah. Dengan begitu orientasi hidupnya dikendalikan keinginan-keinginan eksternal yang merugikan diri sendiri.

Keputusasaan dan wawasan sempit merupakan akibat dan sekaligus sebab manusia bergerak involutif, berorientasi ke belakang saja. Kondisi tersebut sangat jauh dari pesan moral dan sosial Islam, sebagaimana Al-Quran menyatakan manusia adalah makhluk yang kuat, bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, dan memandang kemaslahatan bersama sebagai tugas utamanya.

Oleh karena itu diperlukan visi ke depan dan hari esok sebagai orientasi hidup yang lebih menggembirakan. Kemuliaan hidup tidak di masa lalu tetapi di masa depan.

Fokus pada masa depan akan lebih memberikan daya hidup dengan harapan yang lebih baik. Apapun yang hari ini tampak sebagai musibah yang menghambat dan menyulitkan tidaklah memperlemah dan menyurutkan hasrat dalam usaha mencapai harapan yang lebih mencerahkan.

Cita-cita ideal kehidupan yang sejahtera di dunia dan hidup bahagia di akhirat hanya bisa dicapai melalui sikap hidup yang optimis tentang masa depan. Maka adalah tepat sekali dikutip ayat, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Hasyr/59: 18).

Ayat tersebut mengingatkan agar setiap orang yang beriman memiliki sikap otokritik dengan cara memeriksa kembali secara sungguh-sungguh apa yang telah dilakukan. Otokritik sebagaimana tercermin pada kata "nafsun" juga mengandaikan pengertian agar manusia tidak lupa diri.

Otokritik menjadi bekal utama memasuki gerbang masa depan penuh optimisme.

Sudah barang tentu, kaum muslim meyakini, Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan. Islam adalah agama kemajuan (din al-hadlarah) yang diturunkan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan dan membawa rahmat bagi semesta alam. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved