Ngopi Pagi

FOKUS : Semangat Berbagi

RAMADAN segera berlalu. Sesuai kalender, ibadah puasa yang dijalankan kaum muslimin tinggal dua hari ini, Senin-Selasa (3-5/6).

FOKUS : Semangat Berbagi
tribunjateng/bram
Moh Anhar wartawan Tribun Jateng ok 

Oleh MOH ANHAR
WARTAWAN TRIBUN JATENG

RAMADAN segera berlalu. Sesuai kalender, ibadah puasa yang dijalankan kaum muslimin tinggal dua hari ini, Senin-Selasa (3-5/6). Sebulan penuh ibadah khusyuk dijalankan, termasuk kegiatan-kegiatan sosial yang begitu semarak. Betapa energi positif melimpah ruah pada momen ini.

Begitu mudah kita melihat, ada banyak program berbagi kepada kaum duafa dari segenap elemen masyarakat. Kegiatan yang bisa jadi sepel atau remeh-temeh, namun dijalankan dengan motivasi yang luar biasa.

Tak heran kan bila kita melihat pembagian takjil gratis di jalanan, sekelompok orang bela-belain menyusuri jalanan dan berbagi nasi bungkus untuk sahur, panti asuhan ramai kunjungan donatur musiman, buka bersama anak-anak yatim di hotel, hingga mengajak belanja kaum duafa untuk memenuhi keperluan Lebaran mereka.

Motivasi bersedekah dan beramal saleh booming dalam kesempatan ini. Tentu saja aksi kebaikan ini banyak ragamnya. Kegiatan sosial yang tersebut di atas hanyalah sebagian kecil.

Berbuat baik adalah naluri manusia untuk peduli terhadap kondisi sosial sekitarnya, bahwa ada orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Karenanya, semangat yang seperti ini yang perlu kita jaga. Waktu terus berlari. Ramadan boleh saja pergi. Tapi semangat berbagi harus tetap ada di hati sanubari.

Dan, di penghujung Ramadan ini, yang tak boleh dilupakan adalah zakat fitrah. Bagi kaum muslimin, zakat merupakan bagian dari rukun islam. Belum sempurna keislaman seseorang yang mampu secara ekonomi bila belum menunaikan zakat ini.
Zakat, sebagaimana halnya ibadah salat, haji, dan puasa, telah diatur secara rinci berdasarkan Alquran dan Sunah

Keberadaannya, bukan semata-mata bernilai ketaatan atas perintah Allah, melainkan juga bermakna sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan. Di sisi lain, zakat sesuai arti dari segi bahasa, yang berarti 'bersih', 'suci', 'subur', 'berkat' dan 'berkembang'. Orang yang sudah menunaikan zakat, maka ia telah membersihkan hartanya.

Siapa yang tak mau harta atau aset kekayaannya menjadi lebih suci dengan berzakat?
Dalam syariah Islam, zakat ini memang terdapat beberapa jenis. Selain zakat fitrah yang dikeluarkan menjelang Idulfitri, ada zakat mal.

Beberapa waktu lalu, di sebuah acara bertema filantropi Islam yang dilaksanakan di Surakarta, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyampaikan, potensi zakat di Indonesia disebutkan mencapai Rp 217 triliun.

Sayangnya, angka potensi sebesar itu belum selaras dengan pencapaian realisasi penghimpunan zakat.

CEO Rumah Zakat Nur Effendi, menyebutkan, dari angka potensi penerimaan Rp 217 triliun itu, realiasasi zakat di Indonesia baru Rp 8 triliun atau 4% yang tergarap secara profesional.

Kecilnya persentasi realisasi penerimaan zakat ini harusnya menjadi pemacu untuk bisa lebih menggerakkan zakat. Bukan hanya mendorong para muzakki atau pembayar zakat, tapi juga bagaimana para amil zakat ini berinovasi dalam cara menghimpun dana, pengembangan program penyaluran, hingga transparansi pengelolaan dana.

Dewasa ini, selain Bazanas dan LAS, amil zakat ini tersedia banyak lembaga, baik yang berskala naisonal maupun lokal. Adanya lembaga ini sepantasnya sangat membantu kaum muslimin yang ingin menyalurkan zakatnya. Nah, ketika kita menyambut Hari Raya Idulfitri dengan baju baru, makanan berlebih, dan segala ketercukupan lainnya, pastikan zakat tak terlupakan dalam alokasi pengeluaran kita ya.

Bila kita bergembira di Hari Lebaran, mudah-mudahan kaum duafa dan orang yang membutuhkan lainnya turut bergembira berkat zakat yang kita sampaikan. (*)

Penulis: moh anhar
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved