Mutiara Ramadan : Merawat Institusi Keluarga

ISLAM memberikan perhatian yang besar terhadap pembinaan keluarga sejak awal dimulai keluarga itu terbentuk. Keluarga dimulai dari pernikahan

Mutiara Ramadan : Merawat Institusi Keluarga
IST
Mutohharun Jinan dosen Fakultas Agama Islam UMS Surakarta 

Oleh Dr Mutohharun Jinan MAg
Direktur Pondok Shabran UMS Solo

ISLAM memberikan perhatian yang besar terhadap pembinaan keluarga sejak awal dimulai keluarga itu terbentuk. Keluarga dimulai dari pernikahan --dalam Islam diberlakukan syarat-syarat dan ketentuan yang melibatkan banyak pihak, baik itu saksi, wali, akad, dan lembaga pemerintah-- sebagai jaminan perlindungan.

Kehidupan kekeluargaan selain menjadi satu di antara tanda dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Allah juga merupakan nikmat yang harus disyukuri dan dimanfaatkan."Dan Allah menjadikan bagi pasangan (suami istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagi dari pasanganmu, serta memberimu rizki yang baik."(QS An-Nahl/16: 72).

Perhatian terhadap masalah pernikahan dan keluarga sama pentingnya terhadap perhatian terhadap kehidupan individu dan kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Hal ini sangat penting terlebih di tengah kehidupan masyarakat saat ini yang cenderung memandang rendah arti pentingnya institusi keluarga. Padahal dari lingkungan keluargalah tata kehidupan masyarakat beradab dimulai.

Dalam konteks lebih luas, keluarga adalah sekolah tempat putra-putri bangsa belajar. Dari sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, kasih sayang, kesetiaan, rahmat, gairah kerja dan sebagainya.

Dari kehidupan keluarga seorang ayah dan ibu memperoleh dan memupuk sifat keberanian dan keuletan sikap dalam rangka membela sanak keluarganya dan membahagiakan mereka pada saat hidupnya dan setelah kematiannya.

Keluarga pada dasarnya adalah jiwa masyarakat dan suatu bangsa. Dalam pengertian, kesejahteraan lahir batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya kebodohan dan keterbelakangannya, adalah cerminan dari keadaan keluarga-keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut. Dapat dikatakan keluarga merupakan unit terkecil yang menjadi pendukung dan pembangkit lahirnya bangsa dan masyarakat.

Selama pembangkit itu mampu menyalurkan arus yang kuat lagi sehat, selama itu pula masyarakat bangsa akan menjadi sehat dan kuat. Memang, keluarga mempunyai andil besar bagi jatuh bangunnya suatu masyarakat. Walaupun harus diakui pula masyarakat secara keseluruhan dapat mempengaruhi pula keadaan para keluarga.

Oleh karena itu, Al-Quran mengingatkan, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim/ 66: 6). Memelihara diri dan keluarga dari siksa api neraka artinya menjaga agar kehidupan di dunia ini tidak terjerumus kedalam kerusakan dan kesesatan.

Keteladanan Ibarat suatu bangunan, ia dapat berdiri kokoh dan tahan dari guncangan gempa jika bangunan itu didirikan dengan landasan atau fondasi yang kuat dan bahan-bahan berkualitas.

Fondasi kehidupan kekeluargaan adalah ajaran agama, disertai kesiapan fisik dan mental calon-calon pemimpin keluarga itu. Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar kualitas dan pengetahuan keagamaan menjadi pertimbangan utama dalam perkawinan dan membangun keluarga di samping kesiapan ekonomi dan edukasi.

Membina keluarga yang baik, sejahtera, dan damai bermulai dari pemenuhan kewajiban-kewajiban, hak-hak, dan peraturan yang disyariatkan oleh Allah kepada ayah, ibu, dan anak-anak. Kewajiban, hak, dan peraturan tidak lain tujuannya untuk menciptakan keharmonisan dalam hidup berumah tangga yang pada akhirnya menciptakan rasa aman, bahagia dan sejahtera bagi seluruh masyarakat.

Selanjutnya, pada tahap yang lebih teknis sangat ditekankan perlunya keteladanan dari orangtua, suami istri, sebagai figur yang menjadi panutan dalam kehidupan keluarga. Sejak dini anak-anak mendengarkan perkataan dan mengetahui kebiasaan yang ada di keluarganya terutama prilaku kedua orangtuanya.

Hal ini akan membekas dan secara psikologis menjadi bekal berharga untuk memasuki tahap kehidupan selanjutnya pada usia dewasa. Hal lain yang sangat penting dalam membina keluarga adalah pendidikan.

Keluarga bertanggung jawab peningkatan potensi anak agar menjadi manusia berkualitas tinggi. Orangtua tidak berkuasa membuat anaknya baik sebab potensi kebaikan itu sebenarnya justru sudah ada pada si anak secara natural. Orangtua hanya dapat dan berkewajiban untuk mengarahkan dan mengembangkan potensi primordial pada anak itu sesuai fitrahnya. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved