Wali Kota Semarang Hendi Terkesima Melihat Pementasan Legenda Goa Kreo

Gemerlap lampu sorot menambah indah suasana malam yang dilengkapi taburan bintang dan bulan sabit di langit

Wali Kota Semarang Hendi Terkesima Melihat Pementasan Legenda Goa Kreo
Tribunjateng.com/Eka Yulianti Fajlin
Sejumlah penari muda membawakan peran dalam pentas Mahakarya Legenda Goa Kreo, Minggu (9/6/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ratusan penonton berduyub-duyun mendatangi Plaza Kandri, Minggu (9/6/2019) malam.

Mereka duduk di tribun menghadap panggung yang berada di bibir waduk Jatibarang.

Gemerlap lampu sorot menambah indah suasana malam yang dilengkapi taburan bintang dan bulan sabit di langit.

Pentas tari Mahakarya Legenda Goa Kreo pun dimulai. Diiringi musik gamelan, narasi cerita legenda Goa Kreo dibacakan dalam dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris oleh Camat Gunungpati, Roni Cahyo Nugroho dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari.

Sejumlah penari muda pun kemudian berlenggak-lenggok di panggung terbuka Plaza Kandri membawakan kisah asal-usul Goa Kreo.

Ratusan pasang mata penonton pun tertuju kepada pertunjukan yang mengolaborasikan seni drama, tari, dan musik itu.

Dalam pentas tersebut, puluhan penari membawakan peran masing-masing. Ada yang sebagai Raden Patah sang punggawa Kerajaan Demak, Sunan yang menyebarkan syiar islam, prajurit, rakyat, pohon, hingga sejumlah kera.

Pada masa kejayaan Kerajaan Demak, Raden Patah memerintah Sunan Kalijaga mencari kayu jati sebagai saka guru untuk membangun sebuah masjid yang saat ini menjadi Masjid Agung Demak.

Dalam perjalanannya, Sunan Kalijaga menemukan sebuah pohon jati besar. Ketika akan menebang pohon tersebut, Sunan Kalijaga selalu menemui kegagalan. Akhirnya, dia pun bersemedi disebuah Goa. Ketika itu, datanglah sekawanan kera berwarna merah, hitam, putih, dan kuning membantu Sunan Kalijaga. Akhirnya, kayu tersebut bisa didapatkan dan kembali ke Kerajaan Demak.

Kawanan kera berkeinginan untuk ikut Sunan Kalijaga menuju kerajaan, namun tak diizinkan. Mereka diminta untuk menjaga tempat tersebut yang hingga saat ini dikenal dengan nama Goa Kreo.

Halaman
123
Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved