Ngopi Pagi

FOKUS : Tak Sekadar Menutup

SETELAH sekian lama menjadi wacana, penutupan Lokalisasi Sunan Kuning atau Resosialisasi Argorejo yang terletak di wilayah Kelurahan Kalibanteng, Sema

FOKUS : Tak Sekadar Menutup
tribunjateng/grafis/bram kusuma
ERWIN Ardiansyah wartawan Tribun Jateng 

Oleh Erwin Ardian

Wartawan Tribun Jateng

SETELAH sekian lama menjadi wacana, penutupan Lokalisasi Sunan Kuning atau Resosialisasi Argorejo yang terletak di wilayah Kelurahan Kalibanteng, Semarang Barat mendekati kenyataan. Jika tak ada aral melintang, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang akan menutup lokalisasi Sunan Kuning Agustus 2019. Tak kurang dari tiga bulan lagi.

Kebijakan tersebut bukan datang secara tiba-tiba, namun sudah disosialisasikan sejak beberapa tahun terakhir. Penutupan itu juga bukan murni ide dari Pemkot Semarang, tapi merupakan program pemerintah pusat yang akan menutup seluruh lokalisasi di Indonesia pada 2019.

Sebenarnya pelan tapi pasti, langkah untuk menutup lokalisasi terbesar di Semarang ini sudah dimulai sejak lama. Jumlah penghuni maupun pengunjung lokalisasi sudah turun drastis.

Kali ini langkah penutupan semakin mengerucut menjadi kenyataan. Pemkot Semarang bahkan sudah menggelar rapat koordinasi terkait rencana penutupan. Dukungan terus mengalir, termasuk dari Dinsos Provinsi Jateng dan dari komunitas Sunan Kuning itu sendiri.

Namun bukan berarti penutupan lokalisasi yang sudah ada di Argorejo sejak tahun 60-an itu akan menjadi mudah. Tak sekadar teknis penutupan saja, Pemkot Semarang perlu lebih cermat melihat dampak-dampak dari penutupan lokalisasi itu.

Seperti sejarahnya dulu, lokalisasi itu diciptakan untuk menertibkan keberadaan para Wanita Pekerja Seks (WPS) di jalanan Kota Semarang. Akankah penutupan ini membuat para WPS kembali meramaikan jalanan di Semarang? Itu menjadi tantangan bagi Pemkot Semarang.

Tak hanya itu, pemkot juga harus menjadi katalisator bagi para WPS yang ingin kembali ke masyarakat dan menjalani kehidupan yang baru. Seperti diketahui, tak jarang menjadi WPS adalah pilihan terakhir bagi mereka untuk melanjutkan hidup di tengah persaingan yang semakin ketat.

Menjadi tak adil jika memaksa para WPS meninggalkan pekerjaan mereka, namun tak memberikan solusi agar mereka tetap bisa melanjutkan hidup dan memenuhi segala macam kebutuhan mereka. Kalaupun tidak memberikan pekerjaan secara langsung, setidaknya pemerintah bisa menjembatani para WPS agar mendapatlan pekerjaan layak di perusahaan-perusahaan swasta misalnya.

Langkah cerdas harus dilakukan agar penutupan lokalisasi ini berhasil, tak sekadar memenuhi target pemerintah pusat, namun akibatnya hanya memindahkan para WPS ke jalanan seperti era tahun 60-an sebelum ada lokalisasi.
Selain itu, karena ini adalah program nasional, penutupan lokalisasi di Semarang ini juga harus diikuti oleh lokalisasi lainya di wilayah Jateng yang masih beroperasi.

Sesuai data dari Dinsos Jateng, saat ini tercatat ada 30 lokalisasi tersebar di 19 kabupaten maupun kota di Jateng. Tercatat ada 23.226 WPS yang beroperasi. Belum lagi jika dihitung anak-anak dan keluarga yang menjadi tanggungan WPS.
Tak hanya yang kasat mata, Dinsos Jateng juga mencatat sebanyak 10.023 WPS melakukan transaksi prostitusi secara online.

Dari 19 lokalisasi, sudah 9 lokalisasi yang berhasil ditutup. Jika Semarang sukses, Sunan Kuning menjadi lokalisasi kesepuluh yang berhasil ditutup. Ini tentu menjadi prestasi tersendiri mengingat Argorejo tercatat sebagai lokalisasi terbesar di Jawa Tengah. (*)

Penulis: erwin adrian
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved