Dampak Main Game Online Berjam-jam Anak Kurang Peka Lingkungan, Inilah Kata Pakar

Perasaan senang dan puas ketika bermain game bisa meningkatkan hormon dopamin. Hal ini yang menjadikan para pemainnya ketagihan.

Dampak Main Game Online Berjam-jam Anak Kurang Peka Lingkungan, Inilah Kata Pakar
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi tampilan game online melalui smartphone 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Perasaan senang dan puas ketika bermain game bisa meningkatkan hormon dopamin. Hal ini yang menjadikan para pemainnya ketagihan.

Demikian disampaikan psikolog sekaligus Dekan Fakultas Psikologi Universitas Semarang (USM), DR Rini Sugiarti SPsi MSi, Minggu (16/6).

"Game itu memuaskan gamersnya karena bisa release perasaan yang ada dalam dirinya. Penyebab utama rasa puas adalah adanya peningkatan hormon dopamin sehingga menjadikan gamers ketagihan ingin selalu melanjutkan dan melanjutkan," ujar Rini.

Menurutnya, keseruan bermain game membuat penasaran dan semakin merangsang untuk terus melakukan. Menarik dari sisi isi cerita, visualisasinya, atau juga caranya. Sesuatu yang menarik dan menyenangkan itu menjadi dopamine yang membuat gamersnya ingin selalu dan selalu. Game membuat gamersnya keluar dari dunia nyata dengan imajinasi-imajinasinya.

Dari sisi psikologi, dampak kecanduan game membuat anak menjadi kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Hal ini disebabkan karena anak asyik dengan diri sendiri, berkurang interaksi dengan orang lain karena sibuk dengan game yang dihadapi.

Kemudian anak menjadi kurang respek dengan lingkungan, sosialisasi kurang terasah dan menjadi pribadi yang acuh tak acuh. Anak cenderung menjadi pribadi yang agresif, kurang menghargai orang lain serta lingkungan.

"Banyak waktu dihabiskan dengan dunia maya menjadikan anak cenderung hidup dalam dunia sendiri, asyik dengan diri sendiri sehingga kurang memiliki pengalaman berinteraksi dengan dunia nyata," ujarnya.

Melihat dampaknya begitu mengerikan, maka orangtua harus mengontrolnya. Caranya dengan mengurangi waktu untuk bermain game. Selain itu kurangi perangkat yang biasa digunakan untuk bermain game.

"Berikan syarat sebelum anak bermain game. Pilihkan game yang bisa dimainkan bersama anggota keluarga, serta perbanyak aktivitas berinteraksi dengan keluarga," imbuhnya.

Sementara itu Dosen Antropologi Globalisasi Undip, DR Amirudin, MA mengatakan maraknya gejala pemanfataan game yang multi-arah ini, tidak bisa dilepaskan dari konteks perkembangan peradaban masyarakat. Sebelum abad 20, terasa sekali masyarakat didominasi kebudayaan tradisional; tetapi pasca abad 20, kini benar-benar telah memasuki era baru masyarakat industrial.

"Pergeseran era ini sudah barang tentu turut mengubah pola pranata, kelembagaan, struktur sosial, perilaku ekonomi, perilaku politik dll. Termasuk juga menggeser bentuk- bentuk permainan anak yang dulu cita rasanya sederhana, tidak rumit, bisa diikuti siapa saja, seperti benthik, sundamanda, permainan kelereng, dakon, dll," ujarnya.

Di masa itu, orientasi permainannya pun simpel, sekedar dimaksudkan untuk rekreasi, olah raga, olah otak, melatih kecerdasan dan kerjasama. Terlihat, cara pandang permainan sebagai pemenuhan used-value (nilai guna) cukup kuat. Tetapi, saat era konvergensi media masuk yang menjadi penguat tumbuhnya peradaban masyarakat industrial, dimana dunia internet, telekomunikasi, dan media menyatu, maka bentuk-bentuk permainannya pun berubah.

Perkembangan teknologi ITC berhasil merubah moda permainan anak dari konvensional menjadi digital. "Bagi mereka yang kadung telah menjadi gamers mania pun beringsut masuk ke lanskap moda permainan baru itu dan rela menjadikan dirinya sebagai bagian dari komunitas digital native, yang dalam keseharian, separuh waktu mereka didedikasikan dalam digital gamers. Mereka itu yang disebut kaum heavy gamers," imbuhnya.

Dan kini, yang menyukai dunia ini ternyata bukan saja anak-anak, tetapi juga mahasiswa, kaum profesional, atau bahkan kaum elite lainnya. Ada gamers yang berjuang merebut hadiah (prize), dan hadiahnya tidak tunggal. Sebagian gamers mengejar hadiah hiburan. Tetapi tidak sedikit pula yang mengejar hadiah berupa mengasah kecerdasan, strategi, dan kematangan bertindak. (tim)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved