Warga Binaan Lapas Semarang Belajat Membatik Menggunakan Metode Eco Print
Suara tersebut ternyata berasal dari sejumlah warga binaan Lapas Kelas II A Semarang atau Lapas Bulu yang sedang berlatih membatik.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: suharno
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - "Tak-tok, tak-tok," suara itu terdengar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Semarang atau Lapas Bulu, Rabu (19/6/2019).
Suara tersebut ternyata berasal dari sejumlah warga binaan Lapas Kelas II A Semarang atau Lapas Bulu yang sedang berlatih membatik.
Pelatihan membatik tersebut diajarkan oleh pengerajin batik CV Rena bukan dengan menggunakan canting melainkan menggunakan metode eco print.
Pemilik CV Rena, Rena Dyah Lumintarti menuturkan pelatihan eco print bekerjsama dengan Rieza kraft.
Kegiatan tersebut akan dilaksanakan selama tiga hari.
• Mantan Kepala UPTD Kasda Kota Semarang Dituntut Empat Tahun Penjara
"Kegiatan ini sudah lama kami inginkan. Kami ada beberapa orang yang membantu," tuturnya.
Metode eco print menurutnya teknik perwarnaan menggunakan daun.
Klorofil daun tersebut dipindahkan ke kain dengan cara dipukul.
"Kalau dipukul klorofilnya keluar dan nempel dikain. Itu nanti dilakukan penguncian warna menggunakan kapur dan talas," ujarnya.
Ia berharap adanya pelatihan tersebut para warga binaan mempunyai modal keterampil.
Selain itu, perusahaanya bisa melimpahkan pekerjaan kepada warga binaan.
"Nanti kalau ada pesanan saya bisa masukkan ke lapas," kata dia.
Kasi Kegiatan Kerja Lapas Kelas II Semarang, Gayatri menuturkan ada 20 pelatihan kerja yang dilaksanakan di dalam lapas.
Hasil pelatihan tersebut telah menghasilkan berbagai produk.
"Bahkan produk-produk tersebut sudah dipasarkan," tutur dia.
Dia menuturkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) menganjurkan setiap lapas dapat melakukan banyak kerjasama.
Hal ini bertujuan agar warga binaan mempunyai keterampilan.
"Jadi nantinya mengarah ke lapas industri," tutur dia.
Ia berharap pendampingan yang dilakukan CV Rena dapat berkelanjutan.
Dirinya tidak ingin pendampingan hanya dilakukan sekali.
"Jadi harus konsisten dalam memberikan pelatihan. Pembibingan sampai warga binaan dipersilakan bekerja ditempatnya," pungkasnya. (rtp)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/trainer-eco-print-tunjukan-hasil-karya-dari-warga-binaan-lapas-kelas-iia-semarang.jpg)