Disdikbud Jateng: Pendaftar PPDB Jangan Curang, Ketahuan Bisa Diblacklist

Setiap SMA/SMK Negeri yang ada memiliki kuota 5 persen untuk siswa berprestasi di luar zona dan 5 persen siswa pindahan.

Disdikbud Jateng: Pendaftar PPDB Jangan Curang, Ketahuan Bisa Diblacklist
TRIBUN JATENG/FAISAL M AFFAN
Jasman (baju hitam) tim pengembang PPDB SMA/SMK Jateng dan Jumeri (baju merah) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng sedang memberikan keterangan kepada awak media terkait pendaftaran PPDB online 2019 di kantor Disdikbud Jateng, Kamis (20/6/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pendaftaran PPDB Online 2019 akan dibuka pada 1 Juli 2019.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah, Jumeri menyarankan kepada wali murid dan calon siswa untuk mempersiapkan diri.

Ia ingin wali murid tidak khawatir dan takut dengan sistem zonasi yang diterapkan Pemerintah Pusat.

Sebab, jika dijalankan sesuai prosedur, siswa akan berpeluang masuk di sekolah sesuai zona tempat tinggalnya.

"Kami harap orangtua murid bisa mengikuti prosesnya secara baik. Jangan melakukan manipulasi administratif yang bisa berujung pada sanksi," jelasnya, Kamis (20/6/2019) di Kantor Disdikbud Jawa Tengah.

Jumeri ingin wali murid tidak melakukan pemalsuan surat keterangan domisili (SKD).

Sebab jika terindikasi melakukan kecurangan, siswa yang sudah terdaftar bisa dikeluarkan dari sekolah atau diblacklist.

"Ikuti saja prosesnya secara normal. Jika memang sekolah tidak bisa menampung, nanti akan dialihkan ke zona sekolah lain yang kuotanya masih tersisa," imbuhnya.

Setiap SMA/SMK Negeri yang ada memiliki kuota 5 persen untuk siswa berprestasi di luar zona dan 5 persen siswa pindahan.

Sisanya 90 persen untuk siswa yang berada dalam zona tempat tinggal siswa.

"Jawa Tengah termasuk provinsi yang paling istiqomah dalam menjalankan peraturan Pemerintah Pusat. Kami tidak menyalahi aturan Kementerian Pendidikan. Namun ada sedikit modifikasi. Yakni setiap sekolah kami buka kuota 20 persen untuk siswa berprestasi yang ada di dalam zona. Sehingga tidak ada lagi sekolah unggulan karena sudah diratakan," bebernya.

Jumeri mengakui jika kapasitas SMA/SMK Negeri di Jawa Tengah tidak bisa menampung seluruh jumlah lulusan SMP Negeri yang ada.

"Untuk tahun ini lulusan SMP Sederajat jumlahnya mencapai 540 ribu siswa. Sedangkan kuota yang tersedia SMA hanya 113 siswa dan SMK 143 siswa. Tapi sekarang sudah banyak sekolah swasta yang bagus-bagus. Jadi tidak perlu berkecil hati jika anaknya tidak masuk di sekolah negeri," paparnya. (Faizal M Affan)

Penulis: faisal affan
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved