Pelajar Berkebutuhan Khusus Diwisuda, Bupati Sragen Yakin Kelak Mereka Mampu Hadapi Persaingan
Sekitar 59 pelajar SDLB, SMPLB, dan SMALB mengikuti pelepasan di Joglo Ki Mujito SLB Kabupaten Sragen, Kamis (20/6/2019).
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN - 59 pelajar SDLB, SMPLB, dan SMALB mengikuti pelepasan di Joglo Ki Mujito SLB Kabupaten Sragen, Kamis (20/6/2019).
Pelepasan yang dihadiri Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati berlangsung secara hangat dan meriah.
Yuni dalam kesempatannya menyampaikan selamat kepada pelajar yang telah selesai maupun akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Di tengah persaingan global yang dihadapi saat ini, dimana segala sesuatu seolah tanpa batas, siswa-siswi SLB haru lebih agresif meningkatkan dan mempromosikan kompetensi," ujar Yuni.
Hal ini tentu diharapkan lulusan SLB mampu bersaing para pelaku usaha maupun mampu mencari pekerjaan lainnya.
Yuni juga menyampaikan, dalam hal ini pemerintah akan bekerja sama dengan stakeholder demi memberikan kontribusi positif bagi siswa-siswi SLB.
"Kami yakin adik-adik tidak perlu belas kasihan. Mereka hanya perlu kesempatan untuk dapat mengekspresikan diri dan berkarya," lanjut Yuni.
Yuni juga mengajak kepada orangtua dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama menggandeng anak-anak berkebutuhan khusus untuk dapat bersekolah.
"Banyak orangtua yang tidak menyekolahkan dan bahkan tidak memperbolehkan anak berkebutuhan khusus untuk bergaul dengan lingkungan," ujar Yuni.
Yuni berharap, kesadaran orangtua terhadap pendidikan anak menjadi prioritas utama.
"Ini juga menjadi tugas dinas pendidikan guna menyisir di Kabupaten Sragen agar bisa menolong mereka yang membutuhkan," pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Bagian Kesiswaan SLB Negeri Sragen Indarwo mengatakan, sekolah tersebut mempunyai tujuan menciptakan anak mandiri, terampil, dan bekerja.
Dirinya menyampaikan, pihak sekolah telah membekali anak dengan berbagai keterampilan di bidang otomotif, pertanian, perikanan, kecantikan, dan tata boga.
"Harapan kami tidak lain dan tidak bukan anak-anak SLB bisa bekerja di perusahaan dan bersaing dengan yang lain," ujarnya.
Aduan orangtua terhadap sekolah karena perkembangan anak sangat minim merupakan salah satu kendala dari orangtua.
"Orangtua seolah-olah menginginkan anak-anak mereka tumbuh menjadi anak seperti biasa, padahal mereka berbeda, mereka memiliki kebutuhan khusus," pungkasnya. (Mahfira Putri Maulani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/wisuda-pelajar-berkebutuhan-khusus-kabupaten-sragen.jpg)