Kisah Sukses Amim, Sempat Jatuh Bangun Kembangkan Usaha Rambak dan Kini Berdayakan Masyarakat

Sempat jatuh bangun dalam karirnya, lelaki asli Mojokerto, Amim (39) berhasil mengembangkan usaha produksi rambak dan memberdayakan masyarakat sekitar

Kisah Sukses Amim, Sempat Jatuh Bangun Kembangkan Usaha Rambak dan Kini Berdayakan Masyarakat
TRIBUN JATENG/AGUS ISWADI
Amim, pengusaha rambak saat memperlihatkan tempat produksinya. 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Sempat jatuh bangun dalam karirnya, lelaki asli Mojokerto, Amim (39) berhasil mengembangkan usaha produksi rambak dan memberdayakan masyarakat sekitar.

Tempat produksi rambak milik Amim terletak di Sentul RT 01/7 Delingan Kecamatan Karanganyar.Usaha rambak yang sudah digelutinya selama kurang lebih 4 tahun itu, kini bisa dikatakan berbuah manis.

Di dalam bangunan seluas 4x6 meter, Amim dibantu kelima orang pekerjanya memproduksi rambak setiap harinya. Mulai dari menyangrai potongan rambak mentah, menggoreng, hingga meniriskannya.

"Dulu sempat bekerja sebagai marketing IT atau jasa pemasangan CCTV. Pernah juga menjadi sales onderdil sepeda motor. Dikarenakan perusahaan bangkrut, akhirnya putus kerja. Karena nggak punya pekerjaan, pindah ke rumah istri, Wati (37) di Delingan," kata Amim kepada Tribunjateng.com.

Amim mengaku, usaha produksi rambak ini berawal dari kebingungannya lantaran tidak memiliki pekerjaan.

"Main-main ke rumah teman, tanya soal pekerjaan. Akhirnya dikenalkan kepada pengusaha rambak di Sidoharjo," ungkapnya.

Akhirnya ia memutuskan untuk belajar kepada pengusaha rambak itu dan memberanikan diri memulai usahanya.

"Selama 1,3 tahun ambil bahan di Sidoharjo, 3 kali dalam seminggu ambil bahan dengan mengendarai sepeda motor. Sekali ambil rata-rata 1,5 kuintal," terang Amim.

Seiring berjalannya waktu selama 3 tahun, akhirnya ia diberikan kepercayaan dari perusahaan tempatnya mengambil bahan baku di Sidoharjo. "Jadi tidak perlu ambil bahan ke sana, mereka drop barang ke sini," tuturnya.

Dalam sehari, Amim beserta kelima pekerjanya dapat memproduksi rata-rata sekitar 2-3 kuintal. Beberapa tengkulak dari pedagang pasar biasanya ambil barang dari tempatnya.

Halaman
12
Penulis: Agus Iswadi
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved