Merasa Dingin Akhir-akhir Ini? Wilayah Jateng 17-21 Derajat Celcius, BMKG Ungkap Penyebabnya

Memasuki musim kemarau di Indonesia, suhu udara beberapa wilayah di Pulau Jawa terkadang justru terasa semakin rendah atau lebih dingin dari biasanya.

Merasa Dingin Akhir-akhir Ini? Wilayah Jateng 17-21 Derajat Celcius, BMKG Ungkap Penyebabnya
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Warga Dieng terlihat kedinginan jongkok di atas hamparan rerumputan yang membeku, 2 September 2017 lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Memasuki musim kemarau di Indonesia, suhu udara beberapa wilayah di Pulau Jawa terkadang justru terasa semakin rendah atau lebih dingin dari biasanya.

Untuk Jawa Tengah sendiri, berdasarkan prakiraan cuaca menurut BMKG, tempat-tempat di daratan tinggi mengalami penurunan suhu udara.

Tercatat di sejumlah wilayah seperti Banjarnegara, Magelang, Purbalingga, Purwokerto, Salatiga, Temanggung dan Wonosobo, suhu terendahnya bisa mencapai 17-21 derajat Celcius.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang Iis Widya Harmoko mengkonfirmasi bahwa penurunan suhu memang biasa terjadi khususnya ketika mendekati puncak musim kemarau.

“Dapat dijelaskan bahwa penyebab utama suhu dingin adalah karena datangnya musim kemarau,” jelasnya kepada Tribunjateng.com, Jumat (21/6/2019) hari ini.

Menurut prakiraan, puncak musim kemarau pada 2019 ini terjadi mulai Juli, Agustus hingga September.

Iis menerangkan bahwa saat musim kemarau seperti saat ini wilayah Australia justru berada dalam periode musim dingin.

Menurutnya, tekanan udara di Australia cukup tinggi, sehingga terbentuk antisiklon dan massa udara di wilayah tersebut bersifat dingin dan kering.

Sedangkan, lanjutnya, di Asia sedang mengalami musim panas, sehingga terdapat daerah tekanan rendah dan terbentuk siklon di daerah tersebut.

“Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia dan rendah di Asia ini, menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia dengan membawa massa udara dingin dan kering ke Asia melewati Indonesia yang kemudian dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia,” imbuhnya.

Massa udara dingin tersebut semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara pada malam dan dini hari, khususnya di wilayah Jawa.

“Secara umum tutupan awan di wilayah Jawa juga relatif sedikit, sehingga pantulan panas dari bumi yang diterima dari sinar matahari tidak tertahan oleh awan, namun langsung terbuang dan hilang ke angkasa,” katanya.

Hal tersebut juga menjadi salah satu penyebab mengapa suhu udara musim kemarau menjadi lebih dingin daripada suhu udara musim hujan. 

“Selain itu, pada musim kemarau kandungan air di dalam tanah juga semakin menipis dan kandungan uap air di udara juga rendah, indikatornya bisa dilihat dari rendahnya kelembaban udara.”

“Hal ini juga berpengaruh terhadap bertambah dinginnya udara,” pungkas Iis. (tribunjateng/rez)

Penulis: Reza Gustav Pradana
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved