Breaking News:

Menuju Eliminasi TBC di Jateng Tahun 2028, Ini 6 Strategi Program Dinkes Jateng

Menuju Eliminasi TBC di Jateng tahun 2028, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah memiliki 6 strategi program

Tribunjateng.com/idayatul rohmah
Kabid P2P Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr. Tatik Murhayati M.Kes tengah menandatangani salah satu spanduk dalam acara Lokakarya Pembelajaran Proyek Challenge TB dan Pameran 'A Story of Hope' dalam Rangka Mendukung Eliminasi TB di Jateng tahun 2028" yang berlangsung di Harris Hotel, Sabtu (15/6/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menuju Eliminasi TBC di Jateng tahun 2028, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah memiliki 6 strategi program.

Kabid P2P Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr. Tatik Murhayati M.Kes menyebutkan, keenam strategi tersebut meliputi penguatan kepemimpinan program dan dukungan sistem, peningkatan akses layanan TOSS-TB, dan pengendalian faktor resiko penularan TB.

Selanjutnya yakni peningkatan kemitraan melalui forum koordinasi TB, peningkatan kemandirian masyarakat dalam pengendalian TB, dan penguatan manajemen program.

"Ini adalah strategi yang kami lakukan untuk tahun 2015 sampai 2020. Untuk menuju eliminasi tahun 2028, kita harus menemukan dulu pasien TBC, paling tidak mendekati estimasi. Kemudian untuk kita bisa obati sampai sembuh, sehingga tidak menularkan ke yang lain. Itu baru kita bisa mencapai eliminasi," jelasnya baru-baru ini.

Di antara program tersebut, Tatik menyontohkan kaitannya dengan kerjasama lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat.

Tatik menyebutkan, selama ini pihaknya telah bekerjasama dengan beberapa LSM dan ormas untuk mendukung dan menyosialisasikan terkait penemuan tuberculosis di Jawa Tengah.

"Kami sudah bekerjasama dengan beberapa LSM dan Ormas yang ada seperti LKNU, Aisyiyah. Tahun 2018, kami melalui kerjasama dengan Aisiyah mendapat penghargaan melalui program gerakan ketok pintu. Ini karena bisa menemukan TBC," ujarnya.

Sementara itu terkait upaya pengobatan TBC, Tatik menyebut lebih banyak pada fasilitas kesehatan (Faskes) serta dukungan keluarga.

Hal itu agar pengobatan TBC yang mencapai jangka waktu 6 bulan tersebut dapat terpantau dengan baik.

"Untuk Faskes, kami sudah meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Kemudian pengobatan, kami juga memiliki Pemantau Minum Obat (PMO), itu yang akan mendampingi pasien," paparnya.

Terakhir, terkait tuberculosis di Jateng yang sudah dilakukan pengobatan namun belum terlaporkan, Tatik menyebut ada beberapa kegiatan yang dilakukan untuk mendorong Fasyankes yang ada.

Hal itu agar mereka dapat memberikan laporan terkait tuberculosis yang sudah ditemukan maupun diobati.

Dari sisi obat, sarana dan prasarana itu sudah kami anggarkan, tidak hanya hanya melalui anggaran Dinkes provinsi atau kabupaten, tetapi juga didukung oleh Kementerian Kesehatan," paparnya. (idy)

Penulis: Idayatul Rohmah
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved