Breaking News:

OPINI Aji Sofanudin: Menjaga Karakter Muttaqien

Salah satu makna Idul fitri, kita kembali menjadi suci, dalam arti segala dosa dan kesalahan kita diampuni oleh Allah swt.

Editor: abduh imanulhaq
tribunjateng/bram
Aji Sofanudin 

Oleh Dr Aji Sofanudin MSi, peneliti senior pada Lembaga Kajian Masalah Umat dan Sosial (L@KMUS) Jawa Tengah

ADA kaidah yang terkenal laisal ied liman labisal jadid, wala kinnal ied liman thoathihi/taqwahu yazid, Idul Fitri itu bukan bermakna baju baru tetapi yang disebut Idul Fitri adalah ketaatan/ketaqwaan yang bertambah.

Salah satu makna Idul fitri, kita kembali menjadi suci, dalam arti segala dosa dan kesalahan kita diampuni oleh Allah swt. Ramadlan artinya membakar, segala dosa dan kesalahan kita dibakar oleh Allah, maka pada bulan Syawal kita kembali suci bersih, tanpa noda dan dosa seperti bayi yang baru lahir, khususnya terkait dosa dan kesalahan kita kepada Allah SWT.

Tetapi dosa dan kesalahan kita kepada manusia (hablum minannas), belum sampai kita bertemu, bersalam-salaman, dan bermaaf-maafan. Oleh karena itulah maka, di masyarakat kita ada yang namanya tradisi Halal Bi Halal. Acara ini kemudian menjamur di berbagai komunitas: lingkup RT/RW, masjid/musholla, sekolah, kantor pemerintah, dunia usaha sampai dengan komunitas hobby, reuni dan lain-lain.

Tujuan puasa tidak lain dan tidak bukan adalah memperoleh karakter muttaqien. Dan ini menjadi indikator sukses dan tidaknya puasa Ramadlan yang kita laksanakan. Taqwa adalah martabat seseorang karena usahanya. Berbeda dengan harkat, yang merupakan pemberian dari Allah, given.

Ada istilah harkat, ada istilah martabat. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa arab. Harkat berasal dari حرك يحرك yang berarti bergerak. Maksdunya adalah setiap manusia yang masih bergerak atau berdetak jantungnya maka ia harus dihormati. Meskipun berbeda agama, cacat, lumpuh, buta, tuli bahkan gila sekalipun harkatnya adalah tetap manusia. Hak-haknya harus diberikan dan ia dilindungi oleh negara.

Sehingga ada yang namanya SLB (Sekolah Luar Biasa), tuna netra, tuna rungu, tuna wicara dsb, mereka semua memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Ada al-Qur’an braile, ada fasilitas-fasilitas untuk penyandang disabilitas di bandara dan sebagainya.

Suatu hari ada jenazah orang Yahudi dipikul oleh orang-orang melewati Rasulullah. Tidak berpikir panjang Rasul langsung berdiri. Beliau menghormati orang Yahudi tersebut sebagai manusia yang memang memiliki harkat yang sama. Kalau Rasulullah saja memuliakan manusia maka sudah selayaknya kita ini juga memuliakan manusia. Caranya yaitu dengan memberikan hak-haknya sebagai manusia.

Itulah sebabnya Islam sangat menentang politik aparthait. Membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulit. Seperti yang pernah dijalankan oleh Afrika Selatan dahulu. Juga yang dilakukan oleh negara Israel hari ini. Hanya saja untuk negara Israel aparthait itu bukan berdasarkan warna kulit tetapi antara penduduk Yahudi dan non Yahudi.

Di negara itu orang Yahudi mendapat keistimewaan luar biasa. Sedangkan penduduk asli Palestina dihina dan di sia-sia. Bahkan mereka diusir dari tempat tinggalnya. Untuk kemudian dibangun rumah-rumah tempat tinggal orang-orang Yahudi. Meraka tidak mengenal harkat manusia. Tidak mengenal “kemanusiaan yang adil dan beradab”

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved