Ngopi Pagi

FOKUS: Berakhirnya Era Sekolah Favorit?

Di berbagai daerah, muncul demo warga yang menolak sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

FOKUS: Berakhirnya Era Sekolah Favorit?
tribunjateng/bram
Muslimah wartawan tribunjateng.com 

Oleh Muslimah

Wartawan Tribun Jateng

"Nak, belajar yang rajin ya, biar pinter. Jadi nanti bisa masuk sekolah favorit," nasihat seorang bapak kepada anaknya. Siapa sangka, permintaan itu dijawab buah hatinya dengan kalimat telak. "Lho, Pak, zaman sudah berubah, bapak yang harus bekerja keras biar bisa beli rumah di dekat sekolah favorit."

Lho?! Ini anak kok malah menasihati orangtuanya. Untung, percakapan itu hanya ada dalam dunia meme.

Di berbagai daerah, muncul demo warga yang menolak sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Visualisasi meme di atas adalah bagian dari 'demo' yang terjadi di dunia maya. Dengan kekritisannya, warga mencoba menkritisi sistem zonasi, plus minus serta dampak yang dirasakan masyarakat.

Sistem zonasi termaktub dalam Permendikbud No.51/2018 tentang penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2019/2020. Dalam sistem ini, seleksi calon peserta didik baru dilakukan dengan memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke sekolah dalam zonasi yang ditetapkan, dihitung berdasarkan jarak tempuh dari Kantor Desa/Kelurahan menuju ke sekolah.Memang ada dua jalur lain yang bisa ditempuh calon peserta didik yakni jalur prestasi dan jalur perpindahan tugas atau pekerjaaan orangtua. Namun dua jalur ini hanya mendapat prosentase yang sangat kecil.

Sistem zonasi tentu saja diberlakukan dengan tujuan yang mulia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan melalui zonasi, pemerintah ingin melakukan reformasi sekolah secara menyeluruh. “Target kita bukan hanya pemerataan akses pada layanan pendidikan saja, tetapi juga pemerataan kualitas pendidikan,” ujar Mendikbud.

Selanjutnya, Muhadjir menegaskan bahwa pemerintah ingin menghapus adanya label sekolah favorit yang berkembang masyarakat.Tidak ada lagi sekolah yang isinya anak-anak dengan kriteria nilai khusus. Era sekolah favorit sudah berakhir.

Dalam praktiknya, banyak muncul kendala yang pada akhirnya memicu ketidakpuasan. Sebagai misal, persebaran sekolah yang belum merata. Ada daerah yang jumlah sekolahnya terbatas dan sebaliknya, di daerah lain sekolah terkumpul dalam satu lokasi. Selain itu saat ini antara satu sekolah dengan sekolah yang lain belum memiliki kualitas yang sama. 

Sistem zonasi sebenarnya juga sudah diterapkan di sejumlah negara. Karena itulah sempat dilakukan penelitian oleh Brookings Institution yang berjudul “Housing Costs, Zoning, and Access to High-Scoring Schools”di Amerika. Laporan ini mempelajari kaitan antara zonasi, harga rumah dan nilai ujian sekolah.

Hasilnya, ditemukan bahwa kebijakan zonasi membatasi akses terhadap perumahan murah di daerah yang lebih makmur dan mengurangi kesempatan edukasi bagi siswa dari keluarga berpendapatan rendah karena performa sekolah dapat memengaruhi harga rumah di sekitarnya. Harga tanah di sekitar sekolah yang nilai ujian nasionalnya tinggi rata-rata lebih mahal dibandingkan di sekitar sekolah yang nilai UN-nya rendah.

Jika demikian, benarkah era sekolah favorit akan berakhir? Tentu banyak hal lain yang akan ikut mempengaruhi dan apa yang terjadi di luar negeri tentu beda dengan di Indonesia. Sebagai sistem baru, wajar jika masih ada kekurangan. Kita optimistis karena tujuannya sangat mulia, pemerintah akan menemukan formula tepat untuk menambal celah-celah kekurangan yang saat ini dikeluhkan masyarakat.(*)

Penulis: muslimah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved