Petani Kesesi Pekalongan Kesulitan Dapat Pupuk Bersubsidi, Mahal Pula

Petani di wilayah Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah akhir-akhir ini mulai kesulitan dalam mendapatkan pupuk bersubsidi.

Petani Kesesi Pekalongan Kesulitan Dapat Pupuk Bersubsidi, Mahal Pula
TRIBUN JATENG/INDRA DWI PURNOMO
Persawahan yang berada di Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan. 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Petani di wilayah Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah akhir-akhir ini mulai kesulitan dalam mendapatkan pupuk bersubsidi.

Meskipun di sejumlah agen masih ada pupuk namun petani harus membeli dengan kemasan kiloan sehingga harga lebih tinggi dibanding harga per kuintal.

Selain sulit mendapatkan pupuk, petani juga sulit mendapatkan air dari saluran irigasi sehingga mereka harus menyedot air menggunakan pompa air. Sehingga biaya produksi makin tinggi.

Hal itu dialami oleh, Rasman salah seorang petani asal Kecamatan Kesesi mengatakan biaya yang dikeluarkan untuk petani musim ini lebih tinggi dibanding biasanya.

Sebab, untuk mengaliri tanaman padi petani juga harus membeli air setidaknya 100 ribu rupiah.

Sedangkan dalam sekali masa tanam sampai panen lebih dari 15 kali mompa air.

"Petani yang punya diesel atau pompa air sendiri bisa lebih hemat 50 persen, namun yang tidak punya biaya bisa dua kali lipat. Saat ini untuk mendapatkan pupuk juga sudah sulit, sedangkan kalau tidak dipupuk tidak bakal panen," jelasnya.

Dia menambahkan untuk menyiasati pengeluaran kini sudah banyak petani yang pompa air tadinya menggunakan BBM beralih ke gas 3 kilogram.

Hal yang senada juga dirasakan oleh Khaerudin (38) Petani Desa Langensari, Kecamatan Kesesi, mengatakan saat ini sulit mendapatkan pupuk. Karena sekarang, banyak kemasan pupuk sengaja diubah oleh pedagang dengan ukuran 5 kilogram.

"Harga urea saat ini dengan ukuran satu kwintal mencapai Rp 260 ribu. Namun di toko hanya ada yang kemasan 5 kilogram sehingga harga lebih mahal lagi," kata Khaerudin saat ditemui Tribunjateng.com, Selasa, (25/06/2019).

Menurutnya, padahal untuk harga sebelumnya perkantong atau ukuran 50 kilogram Rp 115 ribu, namun sekarang sudah berbeda.

Meski saat membeli pupuk tidak menggunakan kartu tani, kalau harga lebih mahal maka petani yang dirugikan.

"Sekarang sudah masuk masa pemupukan yang kedua, tapi mencari pupuknya petani benar benar susah mas," ungkapnya. (Dro)

Penulis: Indra Dwi Purnomo
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved