Ngopi Pagi

FOKUS : Argorejo yang Tak Lagi Silir

Silir, nama wilayah di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, pernah populer di antara wilayah lain di Kota Solo.

FOKUS : Argorejo yang Tak Lagi Silir
Tribunnews.com
Rika Ambarwati 

Rika Irawati
Wartawan Tribun Jateng

Silir, nama wilayah di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, pernah populer di antara wilayah lain di Kota Solo. Wilayah yang secara harafiah bermakna sejuk lantaran hembusan angin sepoi-sepoi itu dikenal lantaran menjadi pusat prostitusi. Praktik ini ada sejak Jepang menjajah Indonesia.

Di era Wali Kota Oetomo Ramelan, pusat prostitusi di dekat Sungai Bengawan Solo itu dilegalkan. Sebenarnya, tujuan awal, Silir diharapkan bisa menjadi tempat penampungan pekerja seks komersial (PSK) yang selama ini beroperasi di sejumlah tempat. Selain lokalisasi, Silir juga menyandang status sebagai resosialisasi yang diharapkan ada kegiatan pembinaan agar PSK yang ada bisa kembali ke masyarakat.

Itu sebabnya, selain membangun rumah-rumah sederhana sebagai tempat tinggal PSK tersedia pula tempat dan petugas medis untuk memeriksa kesehatan para PSK. Praktiknya, fungsi resosialisasi tak berjalan baik. Bahkan, praktik prostitusi makin berkembang.

Kondisi ini mendorong DPRD setempat dan Pemkot Solo sepakat menutup lokalisasi Silir. Lewat surat keputusan (SK), Wali Kota Imam Sutopo melarang aktivitas prostitusi di kawasan itu. Para pelaku harus alih profesi.

Mudahkah? Tidak. Bisnis esek-esek tetap berjalan meski secara terselubung. Hukum jual beli berulang lagi. Ada juga PSK yang memilih keluar dari Silir dan mangkal di tempat lain di Kota Solo. Satu di antaranya, di kawasan Kestalan dekat Stasiun Balapan. Para PSK sering mangkal di gang-gang di kawasan itu hingga di Taman Monumen Banjarsari (Monjari).

Sejak ditutup, Pemkot Solo sebenarnya tak pernah tinggal diam. Pelatihan bagi wanita pekerja seks (WPS) juga terus diberikan. Hasilnya masih nihil. Meski begitu, pendekatan terhadap para pelaku di lokalisasi juga pelibatan warga untuk mencegah berkembangnya bisnis prostitusi terus dilakukan.

Di era Wali Kota Joko widodo, warga yang masih menempati tempat di eks-lokalisasi Silir diberi hak istimewa. Mereka diberi sertifikat atas lahan yang ditempati. Pemkot Juga menghidupkan perekonomian kawasan ini lewat cara membangun Pasar Klitikan Notoharjo yang berisikan PKL dari sekitar Monjari.

Muncul pula pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) yang kini menjadi pusat pendidikan dan keterampilan. Pemkot juga membangun rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dan RSUD Semanggi. Pengembangan daerah Semanggi, khususnya di kawasan Silir, terus dilakukan hingga sekarang.

Butuh waktu panjang untuk menghilangkan citra negatif Silir dari lokalisasi menjadi pusat ekonomi, seperti yang masih dikerjakan Pemkot Solo. Ini pula yang bakal menjadi tantangan Pemkot Semarang menutup lokalisasi Argorejo atau Sunan Kuning (SK). Termasuk, Gambilangu (GL) yang sebagian wilayahnya masuk Kabupaten Kendal. Target dua lokalisasi itu tutup pada 15 Agustus haruslah realistis.

Pemberian pesangon dan pelatihan keterampilan hanyalah langkah kecil memberdayakan lagi PSK. Harus ada langkah berkelanjutan dan jangka panjang, serta perencanaan matang. Tentu saja, ini bukan hanya tanggung jawab pemkot tetapi kita semua. Jadi sebenarnya, siapkah kita dan pemkot akan rencana penutupan lokalisasi Argorejo ini? (*)

Penulis: rika irawati
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved