BPOM: Makanan Mengandung Formalin Sering Ditemukan di Pasar Tradisional

data BPOM, tempat persebaran makanan dengan zat berbahaya seperti formalin hingga rodhamine lebih sering ditemukan di pasar tradisional.

BPOM: Makanan Mengandung Formalin Sering Ditemukan di Pasar Tradisional
TRIBUN JATENG/RIVAL ALMANAF
Seorang pengunjung CFD Jalan Pahlawan Kota Semarang menanyakan cara mendeteksi makanan berbahaya kepada petugas BPOM, Minggu (30/6/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pelaku usaha di bidang makanan diminta untuk lebih bertanggung jawab dengan produknya.

Hal itu terkait masih maraknya makanan yang mengandung bahan tidak sehat.

Hal itu diungkapkan dalam kampanye yang dilakukan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Semarang di Car Free Day (CFD) Jalan Pahlawan Kota Semarang, Minggu (30/6/2019).

Kepala BPOM Semarang, Safriansyah menjelaskan, kampanye itu dilakukan dalam rangka memperingati Hari Keamanan Pangan Dunia yang jatuh pada 7 Juli 2019 mendatang.

Dalam kesempatan itu, BPOM memajang contoh barang makanan dan obat yang mengandung bahan berbahaya di hadapan masyarakat.

"Di hari keamanan pangan ini kami ingin menyampaikan bahwa keamanan pangan ini merupakan tanggungjawab bersama, lintas instansi, pelaku usaha, hingga masyarakat," terangnya.

Dari data yang dimiliki BPOM, tempat persebaran makanan dengan zat berbahaya seperti formalin hingga rodhamine lebih sering ditemukan di pasar tradisional.

"Bentuknya beragam, mulai dari mi basah, tahu, aneka jajanan ringan, hingga ikan asin. Terakhir kami menggrebek rumah produksi mi basah berformalin di Pekalongan," beber Safriansyah.

Ia mengungkapkan, dalam pembongkaran sindikat di Pekalongan, ia bahkan menemukan penggunaan formalin padat yang kemudian dicairkan untuk mengawetkan mi.

"Kalau hingga Lebaran, total yang paling banyak kami temukan adalah penggunaan formalin untuk ikan asin sebanyak 20 persen," terangnya.

Oleh karena itu dengan kampanye ini ia berharap agar masyarakat paham bagaimana ciri-ciri makanan yang mengandung formalin hingga merek-merek jamu yang dilarang peredarannya.

Di lain sisi, Suprihatiningsih, pengunjung CFD menyebut, sharing yang dilakukan BPOM sangat berguna terutama untuk ibu rumah tangga sepertinya.

"Kami kan sering belanja di pasar tradisional. Jadi butuh sekali pengetahuan itu. Jadi tahu ciri-ciri makanan yang pakai formalin," imbuh Ningsih. (Rival Almanaf)

Penulis: rival al-manaf
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved