Senin, 27 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Resah dengan Bentuk Interior Modern yang Itu-itu Saja, HDII Bahas Tentang Interior Peranakan

Gaya arsitektur yang diaplikasikan oleh desainer interior modern itu cenderung serupa, sehingga tampak nihil perbedaan.

Penulis: akbar hari mukti | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/AKBAR HARI MUKTI
Rosalia, Ketua HDII memberikan sambutan di pembahasan tentang desain interior peranakan di Tandhok Resto, Semarang, Minggu (30/6/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gaya arsitektur modern sedang menjamur di rumah-rumah saat ini.

Gaya arsitektur yang diaplikasikan oleh desainer interior modern itu cenderung serupa, sehingga tampak nihil perbedaan.

Padahal, banyak juga model desain interior lainnya yang bisa diaplikasikan di rumah-rumah. Salah satunya adalah desain interior peranakan.

Keresahan itu membuat Himpunan Desainer Interior Indonesia-Semarang (HDII) membahas tentang desain interior peranakan, di Tandhok Resto, Gajahmungkur, Semarang, Minggu (30/6/2019).

Rosalia Rahma, Ketua HDII menuturkan keresahan para desainer interior semakin membuncah karena penyajian gaya interior sekarang begitu-begitu saja.

Tak jarang kantor instansi pemerintah juga desain interiornya nyaris serupa.

"Para desainer interior saat ini menyajikan gaya-gaya modern. Lalu semuanya seperti itu semua. Padahal kita punya tema yang spesifik di Kota Semarang yang pesisir. Misal interior peranakan," tutur Rosalia.

Menurutnya gaya peranakan yang tercatat dalam sejarah muncul pada abad 19 hingga awal abad 20. Ciri khas desain interior peranakan adalah perhatian terhadap detail, warna-warna kontras, dan desain yang geometris.

"Peranakan itu macam-macam. Ada Cirebon, Jakarta, Semarang, Jogja," imbuh dia.

Ia mencoba angkat interior tersebut agar anak-anak muda yang akan menjadi desainer nanti memiliki alternatif desain yang tidak hanya modern.

Untuk spesifikasi desain turunan Semarang menurutnya adalah turunan dari Tiongkok, Arab dan juga Belanda.

"Para pendatang dari Tiongkok bukan dari golongan cendekiawan. Dan mereka bertempat di mana-mana," ungkapnya.

"Dari situ mereka mulai mengaplikasikan desain interior tersebut."

Meski merupakan turunan dari negara asing, ia menilai desain interior tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga.

"Kita hadirkan praktisi yang fasih membahas hal tersebut. Harapannya generasi penerus bisa memiliki tambahan materi terkait gaya interior peranakan," paparnya. (Ahm)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved