Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Tegal Bertambah Jadi 933 Orang

Penderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Tegal bertambah

Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Tegal Bertambah Jadi 933 Orang
Tribunjateng.com/Akhtur Gumilang
Kabid Pengendalian Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Tegal, Amat Kiswandi 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Penderita penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Tegal bertambah tahun ini.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal mencatat bahwa penderita HIV/Aids hingga per Mei 2019 ini bertambah menjadi sebanyak 933 orang.

Sedangkan pada tahun lalu, Dinkes mencatat ada sebanyak 872 penderita.

Artinya, ada 61 jiwa tambahan pada tahun ini yang akhirnya mengidap penyakit HIV dan Aids.

Kabid Pengendalian Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Tegal, Amat Kiswandi mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Tegal.

Satu di antaranya, kata dia, adalah tidak terdeteksinya penderita karena tidak mau melapor ke petugas kesehatan.

"Fenomena penderita HIV/AIDS itu seperti gunung es, terlihat kecil di permukaan tapi jika dilihat ke bawah begitu besar. Makanya, petugas kesehatan dari Puskesmas sampai Dinkes mobile melakukan pembinaan pada masyarakat," kata Kiswandi kepada Tribunjateng.com, Rabu (3/7/2019).

Dia menjelaskan bahwa Dinkes berupaya melakukan pembinaan pada penderita secara berkala.

Selain itu, pihaknya pun melakukan sosialisasi pada generasi muda untuk tidak melakukan prilaku seks bebas.

Untuk petugas di Puskesmas tiap kecamatan juga memiliki peran melakukan pendekatan dengan warga yang terindikasi terkena HIV/AIDS.

"Agar untuk rutin melakukan pemeriksaan. Ada di salah satu kecamatan, satu keluarga terkena penyakit HIV/AIDS disebabkan karena sang suami yang positif terkena HIV/AIDS melakukan hubungan badan dengan istrinya tidak menggunakan alat pengaman," tambahnya.

Menurut dia, kendala yang dihadapi pihaknya saat ini adalah masih beredarnya keberadaan Pekerja Seks Komersial (PSK) meski lokalisasi telah ditutup.

Kemudian, tambah Kiswandi, Dinkes maupun petugas Puskesmas tidak bisa mendeteksi para pengidap HIV dan Aids karena berpindah-pindah tempat.

"Ada usulan, razia Satpol PP terhadap PSK nanti tidak hanya melibatkan Dinas Sosial saja, tapi Dinkes juga. Hal itu dilakukan untuk pemeriksaan kesehatan bagi PSK yang kena razia," jelasnya. (Tribunjateng/gum).

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved