Sabtu, 25 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

BERITA LENGKAP : Teror Bom Molotov dan Penembakan Pos Polisi di Magelang dan Jogja

Peristiwa pelemparan bom molotov di Magelang Kota terjadi pada Rabu (3/7), sedangkan tembakan pos polisi di Kulon Progo terjadi pada Kamis (4/7)

TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu
Kapolres Kulonprogo AKBP Anggara Nasution menunjukan salah satu proyektil peluru iu sekitar lokasi penembakan Pos Polisi Siluwok. 

TRIBUNJATENG.COM -- Selain peristiwa teror pembakaran di Magelang, tindakan diduga teror menyasar pos polisi di simpang Siluwok, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. Kaca pos polisi ditembak orang yang belum diketahui identitasnya.

Sementara itu, kantor Unit Laka Lantas (Lantas), Satlantas Polres Magelang Kota, Jawa Tengah, juga diserang bom molotov.

Peristiwa pelemparan bom molotov di Magelang Kota terjadi pada Rabu (3/7), sedangkan tembakan pos polisi di Kulon Progo terjadi pada Kamis (4/7), malam.

Polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah mendapatkan laporan. Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakukan penyelidikan, dan belum diketahui siapa pelakunya.

Polisi bekerja keras untuk mengungkap kasus teror di Kulon Progo dan Magelang Kota ini.

Pengungkapan kasus ini melibatkan Densus 88 Antiteror, Polda DIY, Polda Jawa Tengah, dan Polres Kulon Progo. Belum bisa dipastikan apakah pelaku di dua kejadian tersebut ada keterkaitan.

Pantauan di pos polisi simpang Siluwok, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, kaca pos tampak berlubang. Ada satu lubang bekas tembakan.

Saksi mata, Marsono (60), tukang ojek yang sedang mangkal di pos polisi, mengatakan, kejadian sekitar pukul 04.00. Saat itu ada satu sepeda motor melintas di depan pos polisi dari arah Wates. Seketika, dirinya dikagetkan suara benturan benda mengenai kaca. Suara benturannya cukup keras.

"Ada dua orang berboncengan naik motor dari arah Purworejo ke timur, tapi kemudian berbalik ke barat dan lewat depan pos polisi. Tiba-tiba terdengar suara ‘mak blethak’ dari arah kaca pos polisi," katanya.

Marsono spontan keluar dari pos polisi menengok keadaan. Dilihatnya pengendara sepeda motor itu tetap melaju ke arah barat.

Marsono setelah itu baru menyadari jika ada lubang di kaca pos polisi, dan berasumsi telah terjadi penembakan pos polisi.

Ia lantas memanggil pemilik bengkel dekat pos polisi untuk mengecek keadaan lebih lanjut.

"Saya kurang paham rupa motor maupun orangnya. Tapi jenis motor laki-laki dan orangnya tidak terlalu tinggi, tanpa helm. Jaketnya bergaris putih," kata dia.

Kejadian itu baru dilaporkan pada polisi siang harinya, dan langsung ditindaklanjuti dengan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Dari penyisiran petugas, ditemukan proyektil peluru, bentuknya bulat keemasan, di dekat lokasi. Polisi saat ini masih menyelidiki kejadian itu dan melakukan identifikasi. Belum ada keterangan lebih lanjut dari polisi.

Polisi memastikan pos polisi Siluwok kena tembak. Hal ini didasarkan pada kondisi lubang di kaca pos serta anatomi proyektil peluru yang ditemukan.

Kapolres Kulon Progo, AKBP Anggara Nasution, mengatakan, dugaan awal peluru gotri itu ditembakkan dari unit air gun atau replika senjata bertenaga gas.

Karena memiliki tekanan gas, daya letupnya terbilang kuat hingga mampu menimbulkan lubang di kaca pos yang tertembak. Jika terkena tubuh manusia, tentu efeknya membahayakan.

"Kita lihat anatomi pecahan kaca itu, pelurunya kecil tapi retakannya luas, sehingga dipastikan ada kekuatan besar yang mendorongnya. Dugaan awal adalah jenis air gun. Berbeda dengan air soft gun yang lebih lembut," kata Anggara saat meninjau lokasi pos.

Menurut Anggara, proyektil peluru ditemukan dalam jarak sekitar 6 meter sisi barat pos polisi. Hal ini lantaran peluru seberat sekitar 1 gram itu terpantul setelah mengenai kaca. Namun, karena daya lesatnya cukup kuat, peluru tetap meninggalkan bekas di kaca berupa lubang.

Polisi dalam hal ini masih mendalami kejadian itu dan menyelidiki lebih jauh. Sudah ada dua orang saksi yang dimintai keterangan. Selanjutnya, polisi akan menghimpun dokumentasi kamera pengintai (CCTV) di sekitar lokasi kejadian.

Anggara belum bisa menyimpulkan motif pelaku atas kejadian itu karena masih bersifat penyelidikan. "Apakah hanya bermotif iseng atau lain sebagainya, belum bisa disimpulkan. Kami akan mendalami dulu," kata Anggara.

Polda turun tangan

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda DIY turun tangan dalam penyelidikan kejadian penembakan pos polisi di simpang Siluwok tersebut.

Direktur Reskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo, mengatakan, pihaknya telah menganalisa kejadian itu dan menyimpulkan bahwa penembakan kaca pos polisi itu dilakukan pelaku menggunakan unit air gun.

Namun, unitnya diduga sudah dimodifikasi dan pelurunya diganti jenis gotri. Hal ini menyebabkan daya rusaknya tidak terlalu keras. Terbukti dari sedikitnya area kaca yang pecah serta peluru yang terpantul dalam jarak beberapa meter dari pos.

"Air gun tidak menggunakan peluru aslinya. Tembakannya juga tidak terlalu keras. Terbukti, proyektilnya gotri sepeda, ditemukan di luar pos dan hanya pecah sedikit (kacanya)," kata Hadi ditemui wartawan di Mapolsek Pengasih, Kamis sore.

Pihaknya akan mengintensifkan penyelidikan karena peristiwa itu disebut telah mengganggu ketertiban umum dan menyebarkan teror. Beberapa saksi yang sempat menyaksikan peristiwa itu dimintai keterangannya dan dihimpun informasi untuk mengidentifikasi ciri pelaku dan kendaraannya. Termasuk menghimpun rekaman kamera pengintai yang terdapat di beberapa titik sekitar lokasi.

"Dalam rangka mengungkap kasus ini, kita perlu saksi dan alat-alat (bukti). Kami juga akan tanyakan ke teman-teman Perbakin, apakah peluru yang digunakan itu mematikan atau tidak," kata Hadi.

Disinggung keterkaitan kejadian itu dengan peristiwa bom molotov yang terjadi di beberapa titik di Magelang pada hari yang sama, Hadi tak menjawab jelas.

Ia mengatakan tak punya kewenangan menyampaikan yang terjadi di wilayah lain. Namun begitu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Polda Jawa Tengah dan Densus 88. "Kita koordinasi dengan Polda Jateng dan Densus," kata Hadi. (ing/rfk/tribbunjogja)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved